Selanjutnya, Robert Bala mengajak kita membaca peristiwa sejarah sebagai tanda zaman (signo temporum), menekankan pentingnya refleksi teologis dan pendidikan yang inklusif serta berpijak pada kesalehan rakyat.
Alexander Take Ofong memperluas makna spiritualitas SESADO yang melampaui altar dan menjelma dalam ruang publik, menghadirkan alumni yang menjadi wajah harapan di tengah dunia yang gelap.
Akhirnya, Anselmus Dore Woho Atasoge menegaskan bahwa kaum muda seminaris dan alumni bukan hanya pewaris masa lalu, tetapi pilar masa depan yang membawa garam dan terang bagi dunia yang terus berubah.
Mereka diutus untuk menghidupi Injil secara nyata dengan daya kreasi, semangat kasih, dan kepedulian sosial demi memulihkan martabat, memperkuat solidaritas, dan menyalakan harapan di tengah zaman yang majemuk dan penuh tantangan.
Kini, dalam usia yang matang dan bermakna, SESADO mengajak kita menengok jejak-jejak yang telah tertulis dan menyulam impian yang masih terbentang.
Sekiranya, buku kenangan ini bukan hanya kumpulan nostalgia, tetapi saksi hidup dari bara-bara kecil yang terus dijaga agar tetap menyala—bara panggilan, bara cinta, dan bara cita-cita.
Di balik setiap kisah yang tertulis, terpatri harapan baru: agar dari SESADO terus tumbuh pemikir, pelayan, dan pewarta yang menghidupi terang Injil di tengah zaman yang berubah.
Semoga gema cinta yang pernah berkumandang dari ruang-ruang SESADO terus mengalun menuju masa depan, membentuk generasi yang rendah hati dalam pelayanan dan berani dalam kasih. SESADO akan terus hidup dalam kenangan, dalam impian, dan dalam langkah kaki mereka yang diutus. Ad multos Annos, SESADO! *
Penulis, adalah Alumni SESADO. Kini Staf Pengajar pada Stipar Ende










