LARANTUKA, FLORESPOS.net-Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari empat obyek wisata yang dikelolah oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama semester pertama atau enam bulan masih bertengger di angkah Rp 26.614.000 atau baru 22 persen dari target Rp 121 Juta.
“Untuk Dinas Pariwisata dari realisasi pendapatan yang terinput Rp 9.541.000 atau 7,88 persen dari target Rp 121 juta, per Juni Rp 12.587.000, sekedar informasi sampai Agustus 22 persen, jadi total Rp 26.614.000 realisasi pendapatan,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur, Silvester Kabelen di ruang utama DPRD Flores Timur, Senin (8/9/2025).
Silvester Kabelen menyampaikan realisasi pendapat dinasnya itu dalam rapat Gabungan Komisi DPRD dan TAPD Flores Timur dengan agenda Pembahasan 6 Bulan Semester Pertama Realisasi Program dan Anggaran pada APBD Tahun 2025.
Silvester Kabelen mengatakan, realisasi pendapatan itu diperoleh dari empat obyek wisata milik Pemda yang dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur.
Empat obyek wisata dimaksud, sebut Silvester Kabelen, yakni Asam Satu Beach Weri, Air Panas Oka, Pantai Wisata Deri di Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara dan Pantai Wisata Riangsunge di Kecamatan Solor Barat, Pulau Solor.
“Realisasi sampai Agustus Rp 26 juta, dan berangkat dari pengelolaan selama ini, kami optimis sisa waktu empat bulan ini bisa mencapai target,” katanya.
Sementara realisasi belanja dalam 6 bulan semester pertama. “Dari total anggaran Rp 5.585 miliar lebih yang terealisasi Rp. 1.796 miliar dan realisasi belanja sampai 31 Agustus Rp 2,956 miliar,” kata Silvester Kabelen.
Sejumlah Anggota Gabungan Komisi DPRD Flores Timur, di antaranya Theodorus M. Wungubelen, Gafar Ismail, Sudirman Thamrin, Andi Liwun, Yoseph Sani Betan, Abdon Julius, dan Martinus Welan mencecar Silvester Kabelen terkait rendahnya realisasi pendapatan.
Mereka punya alasan, selama ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur begitu banyak mendapatkan alokasi anggaran dari APBD, bahkan dalam enam bulan semester pertama, ada tambahan alokasi anggaran untuk pelaksanaan sejumlah even besar.
“Dinas Pariwisata ini alokasi anggaran sangat besar dari tahun ke tahun dan banyak even-even, tahun ini–dalam 6 enam ini saja, ada tambahan alokasi anggaran sekitar Rp 500-an juta. Sisa tiga bulan akhir tahun anggaran, realisasi pendapatan baru Rp 26 juta. Masih jauh dari target. Bisa capai target atau tidak ini,” kata Theodorus Wungubelen, Gafar Ismail, Sudirman Thamrin dan Andi Liwun.
Abdon Julius dan Gafar Ismail pada kesempatan itu justru membandingkan pendapatan yang begitu besar dari obyek wisata yang dikelola sejumlah desa dan oleh pihak swasta.
“Di Pantai Oa saja, dengan fasilitas yang sangat terbatas, tapi pendapatan obyek wisatanya jauh lebih besar dari Dinas. Ini menjadi catatan untuk dinas ini,” kata Abdon Julius.
“Dinas harus lebih kreatif dan inovatif mengelola obyek wisata milik Pemda. Kegiatan-kegiatan pemda mesti juga diarahkan di obyek wisata milik pemda, jangan buat acara di obyek wisata bukan milik pemda,” kata Martinus Welan.
Theodorus Wungubelen, Gafar Ismail dan Sudirman Thamrin sangat sanksi, realisasi pendapatan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mencapai target di waktu tersisa hanya tiga bulan akhir tahun anggaran tersebut.
Menanggapi itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Silvester Kabelen dan Ketua TAPD Petrus Pedo Maran mengatakan, semua koreksi dan masuk Gabungan Komisi DPRD menjadi perhatian demi mencapai target realisasi pendapatan yang ditetapkan.
Rapat Gabungan Komisi DPRD dan TAPD Flores Timur tersebut dipimpin Wakil Ketua DPRD Hassan Basri, didampingi Ketua DPRD Albert Ola Sinuor dan Wakil Ketua Robertus Rebon Kereta.
Hadir Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Flores Timur dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Petrus Pedo Maran. Hadir juga Asisten Bidang Administrasi Umum Petrus Pehan Tukan, dan para pimpinan OPD terjadwal Pembahasan Prognosis/6 Bulan Semester Pertama.*
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus










