Resensi Buku: Aurora dari Utara, Puisi yang Menyimpan Luka, Doa, dan Harapan - FloresPos Net

Resensi Buku: Aurora dari Utara, Puisi yang Menyimpan Luka, Doa, dan Harapan

- Jurnalis

Rabu, 16 Juli 2025 - 19:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yohanes Dedeo Suba

Yohanes Dedeo Suba

Oleh; Marselus Natar

Identitas Buku

Judul: Aurora dari Utara

Penulis: Yohanes Dedeo Suba

Penerbit: CV. J. Maestro

Tahun Terbit: 2021

Jumlah Halaman: 117

ISBN: 978-623-6162-26-2

Sinopsis Singkat

Aurora dari Utara merupakan antologi puisi yang menghimpun suara hati dan gejolak batin penulis dalam menghadapi realitas hidup.

Ia menggambarkan derita sosial, getirnya cinta, serta kecemasan global akibat pandemi Covid-19 dengan bahasa yang puitis namun tidak berbelit.

Dalam puisinya, Yohanes Dedeo Suba seolah ingin menyelamatkan dunia yang sedang tenggelam—dengan kata-kata.

Melalui puisi seperti Kita Indonesia, penulis menegaskan identitas bangsa sebagai negeri yang kaya namun luka: “negeriku Indonesia, membentang indah sepanjang khatulistiwa, nusa yang berdandan aneka hayati, menghamilkan puluhan tambang di rahimnya.”

Sementara dalam puisi Apa Mau Jadi Kekasihku, ia bermain dalam paradoks cinta dan kesendirian: “bila kamu jadi kekasihku, yakin pasti kamu akan cemburu, bukan oleh kemilau molek gadis jelita, tapi karena diam heningku dalam rangkul peluk puisiku…”

Sedangkan Corona adalah refleksi pahit atas datangnya pandemi yang mengguncang sendi-sendi kehidupan: “Tibamu merombak, segala rancang rencana, berwajah sangar tersamar…”

Tema dan Pesan Moral

Buku ini bergerak dalam spektrum tema yang luas: cinta, tanah air, penderitaan sosial, dan spiritualitas dalam penderitaan.

Namun benang merahnya tetap sama: kerinduan akan terang di balik gelap, sebagaimana metafora aurora dalam judulnya—cahaya di utara, harapan di balik musim dingin.

Baca Juga :  Malam Pentas Seni Ditengah Ile Lewotobi Laki-laki Mengeluarkan Lava

Puisi-puisi dalam buku ini tidak hanya merenungkan pergumulan pribadi, tapi juga mencoba menyentuh kesadaran kolektif.

Ia berbicara tentang Indonesia, bukan dengan jargon nasionalistik, tetapi dengan lirih yang getir, penuh cinta dan luka. Ia menuliskan kerinduan cinta, bukan dalam bentuk asmara klise, tetapi dalam bentuk kontemplasi eksistensial.

Gaya Bahasa dan Estetika

Bahasa yang digunakan Yohanes Dedeo Suba terbilang padat, puitis, dan emosional. Ia tak banyak bermain metafora yang rumit, tapi justru dalam kesederhanaan diksi, puisinya mampu mengetuk hati pembaca. Puisi-puisinya seperti doa yang terucap lirih—kadang lirih karena pasrah, kadang lirih karena marah.

Kelebihan utama terletak pada kemampuan membangun suasana: pembaca dapat merasakan getir, hening, sepi, bahkan harap yang genting.

Dalam konteks puisi-puisi tentang pandemi, penulis berhasil menghadirkan refleksi personal sekaligus sosial, menjadikannya semacam dokumentasi batin atas zaman yang getir.

Namun, dalam beberapa bagian, terutama tema percintaan, tampak konflik paradoksal yang menarik. Yohanes adalah seorang jomlo, tetapi puisinya seolah berasal dari hati yang sedang jatuh cinta atau rindu kekasih yang tak pernah nyata. Justru di sanalah kekuatan puisinya tumbuh: cinta tak harus hadir dalam wujud, ia bisa abadi dalam kerinduan imajiner.

Karakter dan Konflik

Meskipun ini adalah antologi puisi, sosok “Aku” dalam banyak puisinya muncul sebagai tokoh yang utuh. Ia adalah individu yang sunyi, pencinta puisi, patriot yang kecewa, dan sekaligus manusia yang tak lepas dari gejolak zaman.

Baca Juga :  Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)

Konflik yang ditampilkan bukan dalam bentuk plot cerita, melainkan benturan antara batin dan kenyataan—yang justru memperkuat kesan eksistensial dari seluruh kumpulan ini.

Kelebihan dan Kelemahan

Kelebihan buku ini adalah pada kemampuannya menggugah hati dan menyentuh pikiran pembaca. Ia bisa menjadi teman malam bagi jiwa yang lelah, atau pelipur ketika hidup terasa sempit. Buku ini mengajarkan bahwa kata-kata adalah obat, dan puisi adalah cara merawat luka yang tak terlihat.

Namun, bagi sebagian pembaca awam, terutama yang kurang akrab dengan puisi, beberapa bagian bisa terasa melankolis berlebihan atau terlalu reflektif. Butuh kesabaran dan kepekaan untuk mencerna makna di balik baris-barisnya.

Penilaian Pribadi dan Simpulan

Membaca Aurora dari Utara seperti menyusuri lorong gelap sambil membawa lentera. Kadang kita berhenti di sudut sepi, kadang tersentuh oleh cahaya kecil yang hadir dalam satu bait.

Yohanes Dedeo Suba tidak menulis puisi untuk mengejutkan, tapi untuk menemani—seperti sahabat lama yang datang diam-diam, membawa kisah dan secangkir penguatan.

Buku ini sangat layak dibaca oleh kalangan terpelajar dan orang dewasa yang mampu menangkap gema makna dari setiap bait. Ia tidak menawarkan jawaban, tetapi menawarkan ruang untuk merenung. Dan di masa yang riuh oleh bising dunia, itu adalah hal yang langka.*

Berita Terkait

Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban
Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores
Piala Dunia, ‘Keabadian’ Misi Jules Rimet dan Epistemologi Rerum Novarum
Membangun Bisnis Ramah Keanekaragaman Hayati Berbasis Masyarakat Lokal
Logistik Perintis Lumpuh, Program Strategis Nasional MBG dan KDMP Terancam Gagal
Demokrasi Desa yang Bermartabat
Berita ini 161 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:41 WITA

Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:47 WITA

Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:49 WITA

Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban

Senin, 20 Juli 2026 - 11:48 WITA

Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores

Senin, 20 Juli 2026 - 08:53 WITA

Piala Dunia, ‘Keabadian’ Misi Jules Rimet dan Epistemologi Rerum Novarum

Berita Terbaru

Opini

Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi

Rabu, 22 Jul 2026 - 16:41 WITA

Advertorial

Festival Golo Koe Momentum Penguatan Wisata Religi Katolik Flores

Rabu, 22 Jul 2026 - 09:02 WITA