Setelah tahbis menjadi imam, Romo Egy Parera langsung berangkat dari Maumere kembali ke tempat TOP dulu, Paroki Katedral Kristus Raja Ende. RD Egi merasa bahwa penempatan di paroki Katedral hanyalah bulan madu sebagai imam baru.
Mengapa seperti itu, karena RD Egi Parera hanya sebulan di paroki Katedral dan kemudian dikirim ke Paroki Hati Amat Kudus, Wolowaru.
Saat itu RD Egi merasa canggung dan ada penolakan dalam dirinya. Sebab ia pastor muda dan ditempatkan menjadi pastor paroki di paroki yang dilayani SVD. Namun ia mengambil inspirasi dari Nabi Yeremia, “Kemanapun engkau kuutus, pergilah”.
Kurang lebih lima tahun di Wolowaru, RD Egi pun kembali lagi ke paroki Katedral. Saat kembali para pengurus DPP paroki bercanda dengannya bahwa ia pulang studi banding dari Paroki Wolowaru yang dilayani SVD. Di paroki Katedral ia menghabiskan waktu pelayanan selama sepuluh tahun.
Setelah sepuluh tahun di Katedral, RD Egi diutus lagi ke Paroki Wolotopo. Di sana, ia hanya bertugas selama delapan bulan mempersiapkan tahbisan imam enam diakon. Ia menerima tugas baru lagi di paroki yang dilayani SVD kala itu, pastor parokinya, Pater Esteban SVD.
Menuju Sumatera dan Sempat Ditawar Pegang Pistol
Tugasnya selama delapan bulan di Paroki Wolotopo berakhir. Pada tahun 1998, RD Egi diutus menjadi pastor domestik di Sumatera, Keuskupan Padang karena kebutuhan umat di sana.
Di Keuskupan Padang, RD Egi menghabiskan waktu pelayanan kurang lebih tujuh tahun. Ia berkeliling di sebagian tanah Sumatera, melewati medan ekstrem dan gangguan pemalakan dari warga. Kondisi itu membuat umat menawarkan dirinya memegang pistol untuk melindungi diri.
“Di sana saya sempat ditawarkan oleh umat untuk pegang pistol. Saya menolak karena saya takut bisa tembak orang,” katanya sambil tertawa.
RD Egi Parera mengalami berbagai pengalaman di Keuskupan Padang dan sempat membuka satu paroki baru, berbaur dengan umat yang memiliki budaya berbeda. RD Egi jalani itu dengan semboyan hidupnya ‘Berkeliling Sambil Berbuat Baik’.
Dari Tanah Sumatera, RD Egi kembali ke bumi Tri Warna Ende tepatnya di Paroki Detusoko. Di paroki ini, RD Egi bertugas selama tujuh tahun dan merayakan perak imamatnya.
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










