Gayung bersambut, kedua orangtuanya mendukung apa lagi saat itu ada seorang kakaknya sudah menimbah ilmu di seminari.
Motivasi itu dperkuat dengan aksi lucu yang sering dilakukan saat sang kakak pulang libur. Mereka sering melakukan latihan jadi pastor di rumah, bergantian memimpin misa, membagikan komuni dengan keripik pisang.
“Saat itu kaka saya sudah di seminari, dia pulang kami latihan jadi imam. Pimpin misa dan bagi komuni pakai pisang,” kenang RD Egi Parera.
Selepas dari Sekolah Rakyat, Egi yang sudah tumbuh remaja melangkah ke jenjang pendidikan lanjutan. Ia tak memilih sekolah lain. Ia memilih seminari pertama Lela yang saat itu baru dibuka. Egi adalah angkatan pertama di sekolah itu.
Bersama 53 teman dari berbagai SR sewilayah Maumere dan Ende, Egi mengalami indahnya menjadi siswa angkatan pertama dengan suka dan dukanya, sedih dan senangnya.
Ratakan bukit, cungkil pohon, termasuk kelapa yang dicungkil dari akarnya dibawah komando Praeses pertama, Romo Bosco Terwinyu (alm) dan Frater Yan Jangun serta Frater Maksimus Sintu.
Di panti persemaian Seminari Lela, Egi dibentuk. Getaran panggilan melayani Tuhan menjadi imam semakin kuat dalam dirinya. Ia seakan lupa rumah, keluarganya karena berbaur dengan puluhan seminaris di panti itu.
“Sebagai anak yang sudah terarah dari SR dan rumah, saya senang-senang saja selama tiga tahun di Seminari Lela”.
Menamatkan pendidikan di Seminari Lela, Egi melanjutkan pendidikan ke Seminari Menengah di Seminari Mataloko untuk mewujudkan cita-citanya jadi seorang imam.
Meski bertolak dari Maumere dengan truk bak terbuka, membawa pakaian dengan peti pengganti tas kala itu harus nginap di Ende sebelum ke Mataloko, semua itu tak menyurutkan semangatnya. Lagi – lagi Egi melewati semua itu dengan hati gembira.
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










