Oleh: Suru Oktaviano
SETIAP 28 Oktober kita mengulang sumpah yang sama. Namun cara kita bersumpah sudah jauh berbeda.
Pada 1928, sumpah itu sulit dan mahal. Ia lahir di tengah tekanan kolonial, dibisikkan dalam rasa takut, dan diucapkan dengan taruhan nyawa.
Para pemuda saat itu harus melintasi lautan berhari-hari, menembus sekat suku Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, hanya untuk bisa duduk satu ruangan. Mereka tidak punya mikrofon, tidak ada live streaming. Yang mereka punya hanya tekad untuk membuang ego kesukuan demi sebuah nama baru: Indonesia. Sumpah saat itu adalah laku, bukan sekadar kata.
Hari ini, sumpah itu dimudahkan. Globalisasi, digitalisasi, dan konektivitas telah membuat semua yang dulu sulit menjadi mudah. Inilah tiga kemudahan besar itu.
Pertama, kemudahan Bertumpah Darah Satu. Dulu batas geografis adalah batas empati. Kini teknologi menghapusnya. Seorang mahasiswa di Papua bisa mengerjakan proyek sosial bersama mahasiswa di Aceh lewat video call. Solidaritas tidak lagi butuh pelabuhan.
Kedua, kemudahan Berbangsa Satu. Rasa kebangsaan kini dipicu secara real-time. Ketika gempa, banjir, atau saat timnas mencetak gol, seluruh bangsa merasakan denyut yang sama dalam hitungan detik melalui media sosial.
Ketiga, kemudahan Berbahasa Satu. Bahasa Indonesia yang pada 1928 adalah bahasa minoritas pergerakan, hari ini menjadi bahasa dominan dengan 280 juta penutur, menjadi salah satu bahasa paling aktif di internet dunia dan dipelajari di puluhan negara.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










