Namun di sinilah letak kritiknya. Kemudahan itu telah membuat sumpah menjadi murah.
Ironi pertama adalah Satu Nusa yang terkotak-kotak oleh algoritma. Kita secara fisik terhubung, tetapi secara mental terpecah.
Algoritma media sosial tidak dirancang untuk menyatukan, ia dirancang untuk memecah kita ke dalam echo chamber. Kita hanya berteman dengan yang sepemikiran.
Akibatnya, kita merasa paling Indonesia di dalam gelembung kita, tetapi memusuhi Indonesia yang lain di luar gelembung. Kita satu nusa secara peta, tetapi berpulau-pulau secara pikiran.
Ironi kedua adalah Satu Bangsa yang mudah saling menghakimi. Di era ini identitas bangsa diuji bukan oleh penjajah asing, tapi oleh sesama anak bangsa.
Kita begitu mudah mengibarkan bendera saat timnas menang, tetapi begitu mudah juga mengibarkan kebencian saat beda pilihan politik. Sumpah “Satu Bangsa” kita ucapkan dengan lantang di upacara, tetapi kita langgar dengan ringan di kolom komentar.
Ironi ketiga adalah Satu Bahasa yang terasing di rumah sendiri. Bahasa Indonesia dipuja di luar negeri sebagai bahasa yang indah, tetapi di dalam negeri seringkali dipermalukan oleh penuturnya sendiri.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










