Di ruang publik, di kafe, di presentasi kerja, kita lebih bangga menyelipkan bahasa Inggris yang patah-patah daripada menggunakan bahasa Indonesia yang utuh. Kita mengaku satu bahasa, tetapi kita menciptakan kasta bahasa.
Jika pemuda 1928 melawan penjajah yang jelas dengan senjata, pemuda hari ini melawan penjajah yang tak kasat mata. Ada tiga penjajah baru: hoaks yang menjajah pikiran dan membuat kita curiga pada saudara sendiri, budaya instan dan flexing yang menjajah mental dan membuat kita ingin terkenal tanpa karya, serta individualisme ekstrem yang menjajah sosial dan mengikis gotong royong.
Kita tidak bisa menolak globalisasi. Menolak globalisasi sama dengan menolak masa depan. Yang harus kita lakukan adalah merebut kembali makna sumpah.
Jadikan sumpah sebagai literasi digital. Satu Nusa berarti kita harus cerdas melawan algoritma pemecah. Jadikan sumpah sebagai etika. Satu Bangsa harus diterjemahkan menjadi etika bermedia sosial: berani berbeda tanpa membenci.
Dan jadikan sumpah sebagai kebanggaan karya. Satu Bahasa harus dihidupkan bukan dengan paksaan, tetapi dengan karya. Buatlah konten terbaik dunia dengan bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda bukan upacara tahunan. Ia adalah cermin untuk bertanya: jika pemuda 1928 hadir hari ini, apakah mereka akan bangga? Ataukah mereka akan bertanya, “Mengapa kalian yang memiliki semua kemudahan, justru lebih mudah bertengkar daripada kami yang memiliki semua kesulitan?”
Pemuda 1928 bersumpah dalam keterbatasan untuk menciptakan kemudahan bagi kita. Tugas kita hari ini bukan lagi bersumpah, tetapi menjaga agar kemudahan itu tidak merusak sumpah.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










