Anak-anak, Gempa, dan Perjalanan Membangun Kembali Masa Depan
Oleh: Romo Drs. Patrick Josaphat Dharsam Guru, MA
Gempa bumi tidak hanya mengguncang tanah. Ia mengguncang rasa aman manusia.
Bagi orang dewasa, kehilangan rumah berarti kehilangan bangunan, harta benda, dan tempat tinggal. Tetapi bagi seorang anak, rumah mempunyai arti yang jauh lebih dalam. Rumah adalah tempat ia tidur, bermain, belajar, mencari Mama ketika takut, dan merasa terlindungi dalam pelukan keluarga.
Karena itu, ketika gempa membuat rumah retak, rusak, atau tidak lagi aman ditempati, yang berubah bukan hanya keadaan fisik. Dunia kecil seorang anak ikut berubah.
Ia kemudian mengenal sebuah tempat baru: tenda.
Pada malam pertama, tenda mungkin terasa asing. Namun perlahan anak belajar tidur di sana. Kasur dibentangkan. Selimut disiapkan. Barang-barang ditata. Mama, Papa, kakak dan saudara berada tidak jauh darinya.
Tenda yang semula hanya tempat darurat perlahan menjadi tempat berlindung.
Di sinilah terdapat paradoks menarik: tenda memang tidak nyaman, tetapi dapat memberikan rasa aman.
Seorang anak yang tidak berani tidur di rumah yang dindingnya retak mungkin justru dapat tertidur ketika seluruh keluarga berkumpul dalam tenda. Ia mendengar suara orang-orang yang dikenalnya. Ia tahu bahwa malam itu ia tidak8. sendirian.
Greenstone (2008), dalam The Elements of Disaster Psychology, menempatkan persoalan trauma psikologis dan psikososial sebagai bagian penting dalam penanganan bencana. Artinya, setelah gempa, perhatian tidak boleh berhenti pada bangunan yang rusak. Kita juga perlu memperhatikan manusia yang sedang berusaha memahami apa yang terjadi dalam hidupnya.
Anak mungkin belum mampu mengatakan, “Peristiwa ini telah mengganggu rasa aman saya.” Ia mungkin hanya berkata, “Saya takut tidur.” Atau, “Saya tidak mau masuk rumah.”
Bahkan ketika ia hanya ingin tidur dekat ibunya, sebenarnya ia sedang menyampaikan sesuatu.
Itu adalah bahasa rasa aman.
Tenda yang Menyelamatkan, Tenda yang Melelahkan
Namun tenda mempunyai wajah yang lain.
Hari pertama mungkin terasa sebagai perlindungan. Hari-hari berikutnya dapat menjadi sumber kelelahan.
Tidur terganggu. Panas dan dingin berganti. Suara orang lain terdengar sepanjang malam. Privasi berkurang. Anak tidak memiliki ruang yang cukup untuk belajar, bermain atau sekadar menyendiri.
Anak SD mungkin menjadi lebih mudah menangis, sulit tidur, takut suara keras, lebih melekat kepada orang tua, atau sulit berkonsentrasi.
Remaja dapat menunjukkan respons yang berbeda. Mereka mungkin menjadi pendiam, mudah tersinggung, kehilangan motivasi belajar, menarik diri, atau justru tampak sangat kuat karena merasa harus membantu keluarga.
Rahmawati dan Rahmawati (2022) mengingatkan bahwa bencana mempunyai dampak psikologis dan psikososial yang perlu dipahami dalam konteks individu, keluarga dan komunitas.
Karena itu, kita tidak boleh tergesa-gesa memberi label bahwa setiap anak yang takut atau menangis mengalami gangguan psikologis. Ketakutan setelah gempa adalah respons manusiawi terhadap pengalaman yang memang menakutkan.
Namun kita juga tidak boleh menganggapnya sepele.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya:
“Apakah anak takut?”
Tetapi:
“Apakah ketakutan itu perlahan berkurang, atau justru semakin menguasai kehidupannya?”
Di situlah pendampingan diperlukan.
Bukan untuk memaksa anak melupakan gempa, melainkan membantunya perlahan memperoleh kembali rasa aman.
Lalu Datanglah Tenda Kedua
Setelah anak tidur di tenda, muncul pengalaman berikutnya.
Ia harus belajar di tenda.
Anak-anak bukan hanya berpindah dari rumah ke tenda. Mereka juga berpindah dari rumah sebagai tempat belajar menuju tenda sebagai tempat belajar.
Buku dibuka.
Guru datang.
Anak-anak duduk.
Pelajaran dimulai.
Kalau tenda pertama terutama menyelamatkan tubuh, tenda kedua berusaha menyelamatkan rutinitas, identitas sebagai pelajar dan harapan akan masa depan.
Anak yang belajar di dalam tenda sebenarnya sedang mengatakan:
“Kehidupan saya belum berhenti.”
Di sinilah saya teringat When Stars Are Scattered karya Victoria Jamieson dan Omar Mohamed (2020). Novel grafis ini memang bukan buku psikologi, tetapi menggambarkan kehidupan Omar dan adiknya, Hassan, di kamp pengungsi Dadaab, Kenya.
Omar hidup dalam situasi penuh keterbatasan. Namun kesempatan bersekolah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pendidikan. Sekolah menjadi tanda bahwa kehidupan masih mempunyai kemungkinan.
Kisah itu dapat menjadi cermin bagi anak-anak yang belajar di tenda setelah gempa.
Mereka mungkin belum dapat kembali ke rumah.
Mereka mungkin masih takut ketika tanah sedikit saja bergetar.
Tetapi pagi itu mereka membuka buku.
Guru datang.
Teman-teman berkumpul.
Pelajaran dimulai.
Itu adalah sebuah bentuk harapan.
Jangan Hanya Bertanya: “Apa yang Rusak?”
Psikologi bencana sering membawa kita untuk melihat luka: trauma, kehilangan, kecemasan, kesedihan, gangguan tidur dan ketakutan.
Semua itu penting.
Namun kita juga perlu bertanya:
Apa yang masih dimiliki anak-anak ini?
Mereka masih memiliki teman.
Masih memiliki guru.
Masih memiliki keluarga.
Masih dapat bermain.
Masih dapat belajar.
Masih dapat bermimpi.
Di sinilah pendekatan psikologi positif Schulenberg (2020) menjadi penting. Positive Psychological Approaches to Disaster menempatkan meaning, resilience, hope dan posttraumatic growth sebagai bagian penting dalam memahami kehidupan manusia setelah bencana.
Penyintas tidak hanya dilihat sebagai manusia yang terluka, tetapi juga sebagai manusia yang mempunyai kekuatan untuk bertahan dan membangun kembali kehidupannya.
Ini bukan berarti kita mengatakan, “Syukurlah ada gempa karena sekarang kita menjadi lebih kuat.”
Tidak.
Makna tidak boleh dipaksakan kepada orang yang sedang menderita.
Makna tumbuh perlahan dari pengalaman manusia sendiri.
Seorang anak mungkin berkata:
“Saya ingin sekolah supaya nanti bisa membantu keluarga.”
Anak lain berkata:
“Saya ingin menjadi guru.”
Yang lain mungkin hanya berkata:
“Saya ingin rumah kami dibangun lagi supaya Mama tidak takut.”
Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa masa depan mulai kembali hadir dalam pikirannya.
Ketika Tenda Dibongkar
Justru di sinilah tantangan berikutnya muncul.
Masa tanggap darurat berakhir.
Tenda dibongkar.
Bantuan berkurang.
Orang tua kembali bekerja.
Sekolah kembali berjalan.
Anak diminta kembali kepada kehidupan biasa.
Tetapi bagaimana kembali normal ketika rumah belum menjadi rumah seperti dahulu?
Dinding mungkin masih retak. Kamar belum dapat digunakan. Perabot hilang. Setiap hujan atau suara keras dapat menghidupkan kembali ketakutan.
Karena itu, berakhirnya masa tanggap darurat tidak sama dengan berakhirnya proses pemulihan.
Kita tidak boleh buru-buru mengatakan:
“Sudah, sekarang kembali normal.”
Tujuannya bukan membuat anak kembali persis seperti sebelum gempa.
Tujuannya adalah membantu mereka membangun kehidupan baru dengan rasa aman yang baru.
Sekolah mempunyai peran besar di sini. Sekolah bukan hanya tempat menyelesaikan kurikulum, tetapi juga dapat menjadi ruang pemulihan psikososial.
Guru dapat mengembalikan rutinitas, menyediakan ruang bercerita, memberi kesempatan bermain, mengamati perubahan perilaku, dan mengatakan:
“Kalau kamu masih takut, tidak apa-apa. Mari kita hadapi bersama.”
Kalimat sederhana itu dapat menjadi sangat berarti.
Dari Trauma Healing Menuju Rebuilding Life
Pemulihan tidak boleh berhenti pada trauma healing.
Kita perlu bergerak menuju rebuilding life—membangun kembali kehidupan.
Bagi anak, itu berarti kembali mempunyai jadwal: bangun pagi, mandi, sarapan, pergi sekolah, bermain, belajar, bertemu teman, berdoa, tidur, tertawa, dan perlahan mulai bermimpi lagi.
Rutinitas mengembalikan sesuatu yang hilang akibat bencana: rasa memiliki kendali atas kehidupan.
Anak perlu mengalami kembali bahwa ia masih mampu melakukan sesuatu.
Ia dapat belajar.
Ia dapat bermain.
Ia dapat membantu.
Ia dapat merencanakan.
Ia dapat bercita-cita.
Di situlah resiliensi mulai tumbuh.
Tenda Ketiga: Masa Depan
Kalau tenda pertama adalah tempat anak belajar bertahan hidup, dan tenda kedua adalah tempat anak belajar melanjutkan kehidupan, maka ada tenda ketiga.
Tenda itu tidak terbuat dari kain.
Ia adalah masa depan.
Di sanalah anak mulai berani bertanya:
“Besok saya mau menjadi apa?”
“Sekolah saya akan bagaimana?”
“Rumah kami akan dibangun kapan?”
“Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Mama dan Papa?”
Pertanyaan tentang masa depan adalah tanda bahwa kehidupan sedang bergerak maju.
Karena itu, bantuan pascabencana tidak cukup hanya berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal. Kita juga harus memberikan sesuatu yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kardus:
harapan.
Schulenberg (2020) menunjukkan pentingnya harapan dalam pendekatan positif terhadap bencana, terutama ketika manusia berusaha melihat kemungkinan hidup setelah pengalaman yang mengguncang.
Harapan bukan berkata, “Semuanya akan segera baik-baik saja.”
Harapan berarti mengatakan:
“Hari ini memang sulit, tetapi hari esok masih mungkin dibangun.”
Bintang-Bintang yang Tercerai-berai
Judul Novel When Stars Are Scattered menyimpan sebuah metafora yang indah.
Bintang-bintang tampak seperti titik-titik cahaya yang tersebar. Tetapi ketika titik-titik itu dihubungkan, manusia dapat melihat sebuah rasi.
Begitu pula anak-anak setelah gempa.
Rumah rusak.
Sekolah berubah.
Rutinitas hilang.
Tidur berpindah ke tenda.
Belajar berpindah ke tenda.
Kehidupan tampak tercerai-berai.
Tetapi anak-anak itu belum hilang.
Mereka sedang mencari pola baru.
Tugas kita bukan membuat mereka melupakan gempa. Tugas kita adalah membantu mereka menghubungkan kembali titik-titik kehidupan yang sempat tercerai-berai.
Orang tua menjadi satu titik.
Guru menjadi titik lain.
Teman sebaya menjadi titik lain.
Sekolah menjadi titik lain.
Komunitas menjadi titik lain.
Dan harapan menjadi titik yang menerangi semuanya.
Mungkin suatu hari nanti, ketika rumah telah diperbaiki dan tenda-tenda sudah tidak ada, anak-anak akan mengingat masa itu bukan hanya sebagai masa ketika mereka kehilangan rumah.
Mereka mungkin mengingat:
“Di sana saya belajar bahwa saya tidak sendirian.”
“Di sana saya belajar bahwa saya bisa bertahan.”
“Di sana saya belajar bahwa sekolah tetap berjalan.”
“Di sana saya menemukan kembali harapan.”
Sebab pekerjaan terbesar setelah gempa bukan hanya membangun kembali rumah dan sekolah.
Kita juga harus membangun kembali keyakinan seorang anak bahwa dunia masih menyediakan tempat baginya untuk hidup, belajar, bertumbuh dan bermimpi.
Tenda pada akhirnya akan dibongkar.
Tetapi jangan biarkan rasa aman ikut dibongkar.
Sekolah akan kembali ke gedungnya.
Tetapi jangan biarkan harapan tertinggal di dalam tenda.
Dan ketika anak-anak akhirnya kembali ke rumah, semoga mereka tidak hanya membawa tas sekolah.
Semoga mereka membawa sesuatu yang jauh lebih penting: keberanian untuk menatap hari esok.*
*) Romo Drs. Patrick Josaphat Dharsam Guru. MA. Master Psikologi Konseling Universitas Santo Tomas Manila.
Kursus Psikospiritual di EAPI Ateneo de Manila University.










