Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar - FloresPos Net

Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

HARI ini (15 Agustus 2026) seharusnya menjadi pagi yang penuh syukur. Di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, para frater hendak mengikrarkan Kaul Kekal, menyerahkan seluruh hidup mereka dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama.

Di Larantuka, keluarga besar Seminari Menengah San Dominggo Hokeng bersiap merayakan enam puluh satu tahun perjalanan lembaga yang telah melahirkan ratusan imam dan tokoh bangsa.

Namun, bumi Flores punya rencana lain. Pada pukul 05.47 WITA, tanah yang kita ini pijak berguncang dahsyat, dan segala persiapan itu terhenti oleh jerit, debu, serta reruntuhan.

Guncangan pertama datang tanpa peringatan. Magnitudo 7,7, berpusat di laut utara Flores pada kedalaman 32 kilometer. Getaran berlangsung selama empat belas detik.

Baca Juga :  Krisis Pangan di Lumbung Pangan

Empat belas detik yang meruntuhkan dinding, memecahkan kaca, dan melemparkan orang dari tempat tidur mereka. Warga yang baru terjaga untuk berdoa subuh dan menyiapkan Misa pagi tiba-tiba harus berlari keluar rumah dengan kaki telanjang, menggendong anak, menyeret orang tua yang sulit berjalan.

Gempa susulan pertama, magnitudo 5,8, menghantam pada pukul 06.12. Guncangan kedua ini memperparah kerusakan yang sudah terjadi. Bangunan-bangunan yang retak pada gempa utama akhirnya ambruk.

Dinding gereja, sekolah, dan rumah warga runtuh seperti kartu domino. Di beberapa titik pesisir, tanah mengalami likuefaksi. Tanah padat berubah menjadi lumpur yang menelan fondasi bangunan di atasnya.

Baca Juga :  Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

Badan Meteorologi mencatat sebelas gempa susulan dengan magnitudo di atas 5,0. Warga masih bertahan di ruang terbuka, di halaman gereja, di lapangan sekolah, dengan wajah tegang dan mata yang terus menatap langit serta permukaan laut.

Trauma kolektif bekerja cepat. Ingatan tubuh mereka memanggil kembali malam kelam tiga puluh empat tahun silam, gempa Flores, 12 Desember 1992.

Terjadi sejumlah kerusakan yang memilukan. Ratusan rumah warga di sepanjang pesisir utara dan selatan mengalami kerusakan berat. Beberapa gereja paroki retak parah; menara lonceng di salah satu paroki tua patah dan menimpa atap umat.

Berita Terkait

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Berita ini 338 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Jumat, 25 September 2026 - 11:45 WITA

Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Atasi Sampah, DLHP Sasar Anak-Anak dan Ibu Rumah Tangga Labuan Bajo

Selasa, 29 Sep 2026 - 19:46 WITA