Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
HARI ini (15 Agustus 2026) seharusnya menjadi pagi yang penuh syukur. Di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, para frater hendak mengikrarkan Kaul Kekal, menyerahkan seluruh hidup mereka dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama.
Di Larantuka, keluarga besar Seminari Menengah San Dominggo Hokeng bersiap merayakan enam puluh satu tahun perjalanan lembaga yang telah melahirkan ratusan imam dan tokoh bangsa.
Namun, bumi Flores punya rencana lain. Pada pukul 05.47 WITA, tanah yang kita ini pijak berguncang dahsyat, dan segala persiapan itu terhenti oleh jerit, debu, serta reruntuhan.
Guncangan pertama datang tanpa peringatan. Magnitudo 7,7, berpusat di laut utara Flores pada kedalaman 32 kilometer. Getaran berlangsung selama empat belas detik.
Empat belas detik yang meruntuhkan dinding, memecahkan kaca, dan melemparkan orang dari tempat tidur mereka. Warga yang baru terjaga untuk berdoa subuh dan menyiapkan Misa pagi tiba-tiba harus berlari keluar rumah dengan kaki telanjang, menggendong anak, menyeret orang tua yang sulit berjalan.
Gempa susulan pertama, magnitudo 5,8, menghantam pada pukul 06.12. Guncangan kedua ini memperparah kerusakan yang sudah terjadi. Bangunan-bangunan yang retak pada gempa utama akhirnya ambruk.
Dinding gereja, sekolah, dan rumah warga runtuh seperti kartu domino. Di beberapa titik pesisir, tanah mengalami likuefaksi. Tanah padat berubah menjadi lumpur yang menelan fondasi bangunan di atasnya.
Badan Meteorologi mencatat sebelas gempa susulan dengan magnitudo di atas 5,0. Warga masih bertahan di ruang terbuka, di halaman gereja, di lapangan sekolah, dengan wajah tegang dan mata yang terus menatap langit serta permukaan laut.
Trauma kolektif bekerja cepat. Ingatan tubuh mereka memanggil kembali malam kelam tiga puluh empat tahun silam, gempa Flores, 12 Desember 1992.
Terjadi sejumlah kerusakan yang memilukan. Ratusan rumah warga di sepanjang pesisir utara dan selatan mengalami kerusakan berat. Beberapa gereja paroki retak parah; menara lonceng di salah satu paroki tua patah dan menimpa atap umat.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










