Oleh: Aschari Senjahari Rawe
SEPAK bola di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar pertandingan. Ia menjadi ruang kebanggaan daerah, persaudaraan, hiburan, sekaligus wadah pembinaan generasi muda.
Namun, ketika pertandingan diwarnai konflik, provokasi, keributan, atau tindakan tidak sportif, nilai-nilai tersebut dapat berubah menjadi persoalan keamanan yang merugikan banyak pihak.
Kilas balik berbagai dinamika pertandingan sepak bola menunjukkan bahwa keamanan pemain, penonton, official, pelatih, wasit, dan seluruh perangkat pertandingan harus ditempatkan di atas kepentingan hasil pertandingan.
PSSI sendiri menekankan pentingnya jaminan keamanan bagi wasit, karena tanpa rasa aman perangkat pertandingan akan sulit menjalankan tugas secara profesional.
Konflik tidak boleh hanya dilihat sebagai kesalahan satu pihak. Pemain harus mampu mengendalikan emosi, pelatih dan official menjadi teladan, penonton serta suporter harus memberikan dukungan secara positif, sementara perangkat pertandingan harus menjalankan tugas secara objektif dan sesuai aturan.
Regulasi kompetisi sepak bola juga menempatkan tanggung jawab keamanan pada penyelenggara, termasuk perlindungan terhadap pemain, official, perangkat pertandingan, serta penonton.
Kabar baiknya, sejumlah penyelenggaraan sepak bola di NTT mulai memberikan perhatian lebih serius terhadap aspek keamanan.
Dalam persiapan Liga Soeratin U-17 dan Pertiwi 2026 di Sikka, misalnya, dilakukan risk assessment untuk memetakan potensi kerawanan dan mempersiapkan pengamanan sebelum, selama, dan setelah pertandingan.
Karena itu, sepak bola NTT perlu melakukan evaluasi bersama. Jangan menunggu terjadi konflik baru kemudian mencari siapa yang salah. Setiap pertandingan harus memiliki perencanaan keamanan yang jelas, pengaturan akses yang baik, komunikasi antara panitia dan aparat, serta mekanisme penyelesaian protes dan keberatan melalui jalur yang resmi.
Penonton juga mempunyai peran penting. Dukungan kepada tim seharusnya menjadi energi positif, bukan tekanan atau ancaman kepada lawan dan perangkat pertandingan.
Regulasi kompetisi melarang antara lain invasi lapangan, pelemparan benda ke lapangan, ujaran kebencian, serta tindakan provokatif dan diskriminatif.
Sepak bola NTT harus belajar dari masa lalu. Menang dan kalah adalah bagian dari olahraga, tetapi keselamatan manusia adalah tanggung jawab bersama. Jangan sampai sebuah pertandingan yang seharusnya menjadi pesta olahraga berubah menjadi sumber konflik.
Mari membangun sepak bola NTT yang aman, tertib, sportif, profesional, dan bermartabat. Pemain bermain dengan kemampuan terbaiknya, pelatih dan official memberi teladan, wasit memimpin dengan profesional, panitia menjamin keamanan, dan penonton mendukung dengan penuh sportivitas.
Karena pertandingan boleh panas, persaingan boleh ketat, tetapi persaudaraan dan keselamatan harus tetap menjadi pemenang. *
Penulis adalah Dosen Mata Kuliah Pendidikan Jasmani Prodi PGSD Universitas Flores.
Editor : Wall Abulat










