Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan - FloresPos Net

Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Roy Klemens Nage

MUSYAWARAH Pastoral (MUSPAS) selalu menjadi momentum penting dalam perjalanan Gereja. Ia bukan sekadar forum evaluasi program atau penyusunan agenda lima tahunan, melainkan ruang bersama untuk membaca karya Allah di tengah dinamika kehidupan umat. Karena itu, cara Gereja memulai proses musyawarah pastoral sesungguhnya menentukan arah pastoral yang akan dibangun.

Dalam konteks pencanangan MUSPAS IX Keuskupan Agung Ende yang berlangsung pada Minggu (02/08), tampak sebuah peralihan paradigma yang menarik untuk direfleksikan sebagaimana tertuang dalam surat gembala.

Jika sebelumnya proses pastoral lebih banyak dimulai dengan mengidentifikasi berbagai keprihatinan dan persoalan umat, kini titik berangkatnya bergeser kepada upaya menemukan, menghargai, dan mengembangkan berbagai kebaikan yang telah hidup di tengah Gereja.

Sekilas, perubahan ini tampak sederhana. Namun, dari perspektif sosiologi organisasi dan pembangunan komunitas, perubahan tersebut merupakan transformasi cara berpikir yang sangat signifikan.

Baca Juga :  Menunda Takdir Kematian (Refleksi Atas Kasus Kematian Bayi Baru Lahir di Manggarai)

Selama bertahun-tahun, banyak lembaga, termasuk Gereja, terbiasa menggunakan problem-based approach atau pendekatan berbasis masalah. Pertanyaan pertama yang selalu muncul adalah: “apa yang salah, apa yang kurang, dan apa yang harus diperbaiki?”

Pendekatan seperti ini memang penting karena membantu organisasi mengenali tantangan yang dihadapi. Namun, jika menjadi satu-satunya paradigma, komunitas perlahan membangun identitas berdasarkan kekurangannya sendiri. Yang selalu tampak adalah krisis, kelemahan, dan keterbatasan.

John P. Kretzmann dan John L. McKnight dalam Building Communities from the Inside Out (1993) mengkritisi paradigma tersebut. Menurut mereka, komunitas tidak akan bertumbuh apabila terus-menerus dipandang dari sudut kelemahannya. Sebaliknya, pembangunan yang berkelanjutan harus dimulai dari pengenalan terhadap aset yang telah dimiliki masyarakat.

Baca Juga :  Spirit Servant Leadership Memotivasi TNI-Polri dalam Melayani Masyarakat untuk Indonesia Maju (Pesan Natal pada Nataru Polda Jambi dan Kodim 1625/Ngada)

Aset itu tidak selalu berupa kekayaan material, tetapi juga kemampuan anggota komunitas, pengalaman hidup, kepemimpinan lokal, tradisi gotong royong, jaringan sosial, dan nilai-nilai yang telah mengakar. Pendekatan ini kemudian dikenal sebagai Asset-Based Community Development (ABCD).

Dalam konteks Gereja, pendekatan berbasis aset memiliki resonansi yang sangat kuat dengan Injil. Mukjizat perbanyakan roti (Mat. 14: 13-21) menjadi contoh yang paling jelas.

Yesus tidak memulai dengan menghitung kekurangan makanan bagi lima ribu orang. Ia bertanya apa yang telah tersedia. Lima roti dan dua ikan memang tampak kecil, tetapi justru dari sanalah mukjizat dimulai. Pesan Injil ini mengajarkan bahwa Allah tidak selalu memulai karya-Nya dari kelimpahan, melainkan dari kesediaan manusia mempersembahkan apa yang sudah dimiliki.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’
Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan
Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma
Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:39 WITA

Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:29 WITA

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:25 WITA

Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:17 WITA

Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma

Senin, 27 Juli 2026 - 06:33 WITA

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Berita Terbaru

Nusa Bunga

GP VBC dan Q One Club Raih Tiket ke Final Soekarno Cup 1

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:45 WITA