Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan - FloresPos Net - Page 3

Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendekatan berbasis aset menuntut keberanian untuk mempercayai bahwa Roh Kudus tidak hanya berkarya melalui struktur dan para pemimpin Gereja, tetapi juga melalui pengalaman hidup umat yang sederhana. Jika ruang partisipasi itu benar-benar dibuka, maka MUSPAS bukan lagi sekadar musyawarah, melainkan sebuah proses pembelajaran bersama sebagai Gereja yang sinodal.

Lebih jauh, perubahan pendekatan ini mengingatkan kita bahwa Gereja dibangun bukan pertama-tama oleh besarnya sumber daya, melainkan oleh besarnya harapan.

Harapan itulah yang membuat lima roti dan dua ikan menjadi cukup bagi ribuan orang. Harapan pula yang memungkinkan komunitas kecil bertumbuh menjadi Gereja yang hidup.

Baca Juga :  BENTARA NET: Tatkala KAE dan Masyarakat Flores Gugat Geothermal

Karena itu, apabila MUSPAS IX benar-benar dimulai dengan menemukan rahmat yang telah bekerja di tengah umat, maka Gereja Keuskupan Agung Ende sedang mengambil langkah penting menuju sebuah budaya pastoral yang lebih partisipatif, lebih apresiatif, dan lebih misioner. Budaya yang tidak mengabaikan persoalan, tetapi memilih memandangnya dari terang rahmat Allah yang telah lebih dahulu hadir dalam kehidupan umat.

Pada akhirnya, pendekatan tersebut akan menghadirkan tiga relevansi penting. Pertama, membangun budaya apresiasi. Gereja perlu membiasakan diri menemukan dan mengembangkan praktik-praktik baik yang telah hidup di tengah umat sebagai titik berangkat pembaruan pastoral.

Baca Juga :  Ada Apa dengan Sistem Pendidikan dan Birokrasi di Indonesia?

Kedua, memperkuat partisipasi sinodal. Ketika setiap orang dipandang sebagai pemilik karunia, bukan sekadar penerima pelayanan, rasa memiliki terhadap Gereja akan semakin kuat.

Ketiga, menghadirkan Gereja yang penuh harapan. Di tengah berbagai perubahan sosial, paradigma yang berpusat pada rahmat dan potensi umat akan melahirkan Gereja yang lebih kreatif, tangguh, dan siap menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan sukacita Injil. *

Penulis adalah Imam Keuskupan Agung Ende, Alumnus IFTK Ledalero, Flores-NTT

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Berita ini 71 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Berita Terbaru