Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan - FloresPos Net - Page 3

Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendekatan berbasis aset menuntut keberanian untuk mempercayai bahwa Roh Kudus tidak hanya berkarya melalui struktur dan para pemimpin Gereja, tetapi juga melalui pengalaman hidup umat yang sederhana. Jika ruang partisipasi itu benar-benar dibuka, maka MUSPAS bukan lagi sekadar musyawarah, melainkan sebuah proses pembelajaran bersama sebagai Gereja yang sinodal.

Lebih jauh, perubahan pendekatan ini mengingatkan kita bahwa Gereja dibangun bukan pertama-tama oleh besarnya sumber daya, melainkan oleh besarnya harapan.

Harapan itulah yang membuat lima roti dan dua ikan menjadi cukup bagi ribuan orang. Harapan pula yang memungkinkan komunitas kecil bertumbuh menjadi Gereja yang hidup.

Baca Juga :  Restorasi Fungsi Sosial (Membaca Peristiwa 18 Februari di Kota Larantuka dari Perspektif Fungsionalisme Durkheim)

Karena itu, apabila MUSPAS IX benar-benar dimulai dengan menemukan rahmat yang telah bekerja di tengah umat, maka Gereja Keuskupan Agung Ende sedang mengambil langkah penting menuju sebuah budaya pastoral yang lebih partisipatif, lebih apresiatif, dan lebih misioner. Budaya yang tidak mengabaikan persoalan, tetapi memilih memandangnya dari terang rahmat Allah yang telah lebih dahulu hadir dalam kehidupan umat.

Pada akhirnya, pendekatan tersebut akan menghadirkan tiga relevansi penting. Pertama, membangun budaya apresiasi. Gereja perlu membiasakan diri menemukan dan mengembangkan praktik-praktik baik yang telah hidup di tengah umat sebagai titik berangkat pembaruan pastoral.

Baca Juga :  Menghidupkan Kembali Kemanusiaan

Kedua, memperkuat partisipasi sinodal. Ketika setiap orang dipandang sebagai pemilik karunia, bukan sekadar penerima pelayanan, rasa memiliki terhadap Gereja akan semakin kuat.

Ketiga, menghadirkan Gereja yang penuh harapan. Di tengah berbagai perubahan sosial, paradigma yang berpusat pada rahmat dan potensi umat akan melahirkan Gereja yang lebih kreatif, tangguh, dan siap menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan sukacita Injil. *

Penulis adalah Imam Keuskupan Agung Ende, Alumnus IFTK Ledalero, Flores-NTT

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’
Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan
Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma
Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:39 WITA

Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:29 WITA

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:25 WITA

Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:17 WITA

Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma

Senin, 27 Juli 2026 - 06:33 WITA

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Berita Terbaru

Nusa Bunga

GP VBC dan Q One Club Raih Tiket ke Final Soekarno Cup 1

Selasa, 4 Agu 2026 - 07:45 WITA