Oleh: Pius Jemadu, S.Fil.
KERUSAKAN lingkungan hidup kini menjadi salah satu persoalan paling serius yang dihadapi umat manusia. Di berbagai daerah, hutan terus menyusut, mata air mengering, sungai dipenuhi limbah, gunung dikeruk, dan cuaca semakin sulit diprediksi.
Banjir, longsor, kekeringan, serta menurunnya kualitas lingkungan bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan juga konsekuensi dari cara manusia memperlakukan alam.
Demi mengejar pertumbuhan ekonomi dan keuntungan jangka pendek, manusia sering lupa bahwa bumi bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan rumah bersama yang menopang kehidupan semua makhluk.
Ironisnya, manusia sering merasa sebagai pemilik mutlak alam, padahal dalam iman Kristiani manusia hanyalah pengelola yang dipercayai Allah untuk merawat ciptaan-Nya.
Kitab Kejadian dengan jelas menegaskan bahwa manusia ditempatkan di taman Eden untuk “mengusahakan dan memeliharanya” (Kejadian 2:15). Kata “mengusahakan” tidak dapat dipisahkan dari kata “memelihara”.
Artinya, pembangunan dan pemanfaatan alam memang diperbolehkan, tetapi harus selalu disertai tanggung jawab menjaga keseimbangan dan keberlanjutan lingkungan. Ketika manusia hanya mengambil tanpa memelihara, sesungguhnya manusia sedang mengkhianati mandat yang diberikan Allah sejak awal penciptaan.
Dalam konteks ini, kisah Yesus dimuliakan di Gunung Tabor memberikan inspirasi yang menarik untuk direnungkan. Ketika Petrus menyaksikan kemuliaan Yesus bersama Musa dan Elia, ia berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau menghendaki, aku akan mendirikan tiga kemah di sini.” Namun Yesus tidak menanggapi usulan itu dan justru mengajak para murid turun dari gunung.
Secara biblis, Injil tidak mengatakan bahwa Yesus menolak mendirikan kemah karena ingin melindungi hutan atau menjaga kelestarian gunung. Makna utama peristiwa itu adalah bahwa para murid tidak boleh berhenti menikmati pengalaman rohani, melainkan harus kembali ke tengah dunia untuk melaksanakan misi.
Namun, dalam terang krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini, kisah tersebut dapat menjadi refleksi pastoral yang sangat relevan. Yesus tidak mengubah Gunung Tabor menjadi kawasan pembangunan permanen. Gunung tetap menjadi ruang keheningan, tempat manusia berjumpa dengan Allah, dan bagian dari keindahan ciptaan yang tidak perlu diubah demi memenuhi ambisi manusia.
Refleksi ini mengingatkan kita bahwa tidak semua tempat yang indah harus dibangun, dibuka menjadi kawasan wisata besar, atau dieksploitasi atas nama kemajuan. Ada ruang-ruang alam yang justru harus tetap lestari karena memiliki nilai ekologis, spiritual, dan sosial yang jauh lebih besar daripada keuntungan ekonomi sesaat.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










