Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama - FloresPos Net

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

- Jurnalis

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:30 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Pius Jemadu, S.Fil.

KERUSAKAN lingkungan hidup kini menjadi salah satu persoalan paling serius yang dihadapi umat manusia. Di berbagai daerah, hutan terus menyusut, mata air mengering, sungai dipenuhi limbah, gunung dikeruk, dan cuaca semakin sulit diprediksi.

Banjir, longsor, kekeringan, serta menurunnya kualitas lingkungan bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan juga konsekuensi dari cara manusia memperlakukan alam.

Demi mengejar pertumbuhan ekonomi dan keuntungan jangka pendek, manusia sering lupa bahwa bumi bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan rumah bersama yang menopang kehidupan semua makhluk.

Ironisnya, manusia sering merasa sebagai pemilik mutlak alam, padahal dalam iman Kristiani manusia hanyalah pengelola yang dipercayai Allah untuk merawat ciptaan-Nya.

Kitab Kejadian dengan jelas menegaskan bahwa manusia ditempatkan di taman Eden untuk “mengusahakan dan memeliharanya” (Kejadian 2:15). Kata “mengusahakan” tidak dapat dipisahkan dari kata “memelihara”.

Baca Juga :  Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe

Artinya, pembangunan dan pemanfaatan alam memang diperbolehkan, tetapi harus selalu disertai tanggung jawab menjaga keseimbangan dan keberlanjutan lingkungan. Ketika manusia hanya mengambil tanpa memelihara, sesungguhnya manusia sedang mengkhianati mandat yang diberikan Allah sejak awal penciptaan.

Dalam konteks ini, kisah Yesus dimuliakan di Gunung Tabor memberikan inspirasi yang menarik untuk direnungkan. Ketika Petrus menyaksikan kemuliaan Yesus bersama Musa dan Elia, ia berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau menghendaki, aku akan mendirikan tiga kemah di sini.” Namun Yesus tidak menanggapi usulan itu dan justru mengajak para murid turun dari gunung.

Secara biblis, Injil tidak mengatakan bahwa Yesus menolak mendirikan kemah karena ingin melindungi hutan atau menjaga kelestarian gunung. Makna utama peristiwa itu adalah bahwa para murid tidak boleh berhenti menikmati pengalaman rohani, melainkan harus kembali ke tengah dunia untuk melaksanakan misi.

Baca Juga :  “Evangelium Vitae” Menyikapi Fenomena Bunuh Diri

Namun, dalam terang krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini, kisah tersebut dapat menjadi refleksi pastoral yang sangat relevan. Yesus tidak mengubah Gunung Tabor menjadi kawasan pembangunan permanen. Gunung tetap menjadi ruang keheningan, tempat manusia berjumpa dengan Allah, dan bagian dari keindahan ciptaan yang tidak perlu diubah demi memenuhi ambisi manusia.

Refleksi ini mengingatkan kita bahwa tidak semua tempat yang indah harus dibangun, dibuka menjadi kawasan wisata besar, atau dieksploitasi atas nama kemajuan. Ada ruang-ruang alam yang justru harus tetap lestari karena memiliki nilai ekologis, spiritual, dan sosial yang jauh lebih besar daripada keuntungan ekonomi sesaat.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?
Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?
Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan
Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si
Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ
Masyarakat Harus Gunakan Lahan untuk Porang, Bukan untuk Tambang
Menguji Nurani di Jengkalang: Antara Jeritan Perut dan Panggilan Menjaga Bumi
Menimbang Etika Politik Pilkades
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:30 WITA

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:40 WITA

Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:05 WITA

Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan

Senin, 6 Juli 2026 - 18:33 WITA

Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si

Berita Terbaru

Opini

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

Selasa, 14 Jul 2026 - 11:30 WITA

Nusa Bunga

Kepala BPKH NTT: TPA Warloka Berada Diluar CA Wae Wuul

Selasa, 14 Jul 2026 - 11:13 WITA