Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama - FloresPos Net - Page 2

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

- Jurnalis

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:30 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sayangnya, cara berpikir masyarakat modern sering kali mengukur nilai alam berdasarkan manfaat ekonominya. Hutan dipandang bernilai jika menghasilkan kayu, gunung dianggap berharga jika mengandung mineral, sungai dipandang penting jika mampu mendukung industri, sementara laut dinilai dari banyaknya hasil yang dapat dieksploitasi.

Cara pandang seperti ini perlahan menghilangkan rasa hormat terhadap ciptaan. Alam tidak lagi dipandang sebagai sesama ciptaan Allah, melainkan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan. Akibatnya, ketika keuntungan menjadi satu-satunya ukuran, kerusakan lingkungan dianggap sebagai harga yang wajar untuk dibayar.

Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si mengingatkan bahwa akar persoalan ekologis bukan pertama-tama terletak pada teknologi atau kurangnya regulasi, melainkan pada krisis moral manusia.

Manusia modern mengalami apa yang disebut sebagai paradigma teknokratis, yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dikendalikan dan dimanfaatkan demi kepentingan manusia tanpa memikirkan akibatnya. Cara berpikir inilah yang melahirkan eksploitasi alam secara berlebihan dan mengabaikan hak generasi yang akan datang untuk menikmati lingkungan yang sehat.

Baca Juga :  Doa Terakhir dari Para Kardinal untuk Paus Fransiskus

Melalui Laudato Si, Paus Fransiskus mengajak seluruh umat manusia melakukan pertobatan ekologis. Pertobatan ini bukan hanya berarti menanam pohon atau mengurangi sampah plastik, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap alam. Alam bukan objek yang harus dikuasai, melainkan rumah bersama yang harus dirawat. Kerusakan lingkungan tidak pernah hanya berdampak pada pepohonan atau satwa liar.

Yang paling pertama merasakan akibatnya justru masyarakat kecil, para petani, nelayan, masyarakat adat, dan keluarga miskin yang kehidupannya sangat bergantung pada alam. Oleh karena itu, menjaga lingkungan sesungguhnya juga merupakan tindakan membela martabat manusia.

Baca Juga :  P e t a n i

Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk melihat bahwa iman tidak berhenti di altar gereja atau dalam doa-doa pribadi. Iman harus diwujudkan dalam tanggung jawab nyata terhadap ciptaan.

Tidak ada gunanya mengaku mencintai Allah jika kita merusak karya-Nya. Tidak ada artinya membangun gedung-gedung megah jika pada saat yang sama kita menghancurkan hutan yang menjadi sumber kehidupan banyak orang.

Alam adalah bagian dari pewahyuan Allah, melalui keindahannya manusia dapat mengenal kebesaran Sang Pencipta. Karena itu, merawat lingkungan merupakan bentuk ibadah yang nyata dan ungkapan syukur atas karunia kehidupan.

Di tengah berbagai ancaman terhadap bumi, Gereja Katolik dipanggil menjadi suara kenabian yang mengingatkan bahwa pembangunan sejati tidak boleh mengorbankan kehidupan. Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan keadilan ekologis.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?
Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?
Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan
Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si
Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ
Masyarakat Harus Gunakan Lahan untuk Porang, Bukan untuk Tambang
Menguji Nurani di Jengkalang: Antara Jeritan Perut dan Panggilan Menjaga Bumi
Menimbang Etika Politik Pilkades
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:30 WITA

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:40 WITA

Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:05 WITA

Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan

Senin, 6 Juli 2026 - 18:33 WITA

Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si

Berita Terbaru

Opini

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

Selasa, 14 Jul 2026 - 11:30 WITA

Nusa Bunga

Kepala BPKH NTT: TPA Warloka Berada Diluar CA Wae Wuul

Selasa, 14 Jul 2026 - 11:13 WITA