Sayangnya, cara berpikir masyarakat modern sering kali mengukur nilai alam berdasarkan manfaat ekonominya. Hutan dipandang bernilai jika menghasilkan kayu, gunung dianggap berharga jika mengandung mineral, sungai dipandang penting jika mampu mendukung industri, sementara laut dinilai dari banyaknya hasil yang dapat dieksploitasi.
Cara pandang seperti ini perlahan menghilangkan rasa hormat terhadap ciptaan. Alam tidak lagi dipandang sebagai sesama ciptaan Allah, melainkan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan. Akibatnya, ketika keuntungan menjadi satu-satunya ukuran, kerusakan lingkungan dianggap sebagai harga yang wajar untuk dibayar.
Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si mengingatkan bahwa akar persoalan ekologis bukan pertama-tama terletak pada teknologi atau kurangnya regulasi, melainkan pada krisis moral manusia.
Manusia modern mengalami apa yang disebut sebagai paradigma teknokratis, yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dikendalikan dan dimanfaatkan demi kepentingan manusia tanpa memikirkan akibatnya. Cara berpikir inilah yang melahirkan eksploitasi alam secara berlebihan dan mengabaikan hak generasi yang akan datang untuk menikmati lingkungan yang sehat.
Melalui Laudato Si, Paus Fransiskus mengajak seluruh umat manusia melakukan pertobatan ekologis. Pertobatan ini bukan hanya berarti menanam pohon atau mengurangi sampah plastik, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap alam. Alam bukan objek yang harus dikuasai, melainkan rumah bersama yang harus dirawat. Kerusakan lingkungan tidak pernah hanya berdampak pada pepohonan atau satwa liar.
Yang paling pertama merasakan akibatnya justru masyarakat kecil, para petani, nelayan, masyarakat adat, dan keluarga miskin yang kehidupannya sangat bergantung pada alam. Oleh karena itu, menjaga lingkungan sesungguhnya juga merupakan tindakan membela martabat manusia.
Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk melihat bahwa iman tidak berhenti di altar gereja atau dalam doa-doa pribadi. Iman harus diwujudkan dalam tanggung jawab nyata terhadap ciptaan.
Tidak ada gunanya mengaku mencintai Allah jika kita merusak karya-Nya. Tidak ada artinya membangun gedung-gedung megah jika pada saat yang sama kita menghancurkan hutan yang menjadi sumber kehidupan banyak orang.
Alam adalah bagian dari pewahyuan Allah, melalui keindahannya manusia dapat mengenal kebesaran Sang Pencipta. Karena itu, merawat lingkungan merupakan bentuk ibadah yang nyata dan ungkapan syukur atas karunia kehidupan.
Di tengah berbagai ancaman terhadap bumi, Gereja Katolik dipanggil menjadi suara kenabian yang mengingatkan bahwa pembangunan sejati tidak boleh mengorbankan kehidupan. Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan keadilan ekologis.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










