Pembangunan yang merusak hutan, menghilangkan mata air, mencemari sungai, dan mengancam masa depan generasi mendatang bukanlah kemajuan yang sejati. Sebaliknya, pembangunan yang menghormati keseimbangan alam merupakan bentuk penghormatan kepada Allah Sang Pencipta.
Pada akhirnya, kisah Yesus yang turun dari Gunung Tabor mengingatkan kita bahwa pengalaman iman harus menghasilkan tanggung jawab yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kita dipanggil bukan hanya untuk mengagumi keindahan ciptaan, tetapi juga menjaga dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Sebab ketika manusia kehilangan hutan, kehilangan air, dan kehilangan udara yang bersih, yang sesungguhnya hilang bukan hanya kekayaan alam, melainkan juga kesempatan untuk melihat wajah kasih Allah yang terpancar melalui keindahan ciptaan-Nya.
Seperti diingatkan Paus Fransiskus dalam Laudato Si, “Segala sesuatu saling berhubungan”. Oleh karena itu, menjaga bumi berarti menjaga kehidupan, menjaga sesama, dan pada akhirnya menjaga hubungan kita dengan Allah sendiri. *
Penulis adalah Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Manggarai
Editor : Wall Abulat










