BENTARA NET: Jalan Pulang Menuju Kebaikan - FloresPos Net

BENTARA NET: Jalan Pulang Menuju Kebaikan

- Jurnalis

Sabtu, 21 Februari 2026 - 08:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

DI bawah lengkung langit yang sama, ketika rembulan Ramadan mulai menyabit dan abu suci menandai dahi, dua pengembaraan rohani dimulai. Ia adalah sunyi yang bicara, tentang lapar yang memberi makan pada jiwa, dan dahaga yang membasuh noda dunia.

Ramadan dan Prapaskah hadir bagai oase di tengah gersangnya laku insani, menuntun langkah-langkah yang letih untuk pulang ke rumah keheningan, di mana doa-doa dirajut dalam tungku kesabaran dan kasih sayang yang tak bertepi.

Dalam tradisi Islam, Ramadan adalah waktu spesial untuk “naik kelas” secara spiritual sekaligus memperbaiki hubungan antarmanusia. Pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari, melihat Ramadan sebagai masa pembersihan diri agar iman kita semakin kokoh.

Sementara itu, pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, mengingatkan bahwa puasa tidak sebatas pada ritual, tapi harus menjadi solusi nyata bagi masalah masyarakat.

Senada dengan itu, Buya Hamka mengajarkan bahwa puasa adalah cermin untuk melihat ke dalam diri. Puasa tidak berhenti pada soal menahan lapar. Lebih dari itu, ia menjadi cara kita “mengerem” sifat-sifat buruk.

Mengutip Al-Ghazali, puasa adalah separuh dari kesabaran, dan kesabaran adalah separuh dari iman. Jadi, Ramadan sebenarnya adalah perisai agar jiwa kita tetap tangguh menghadapi ujian hidup.

Baca Juga :  BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing

Bagi umat Katolik, Prapaskah adalah “Retret Agung” selama 40 hari untuk merenungi pengorbanan Yesus. Ini adalah masa ‘metanoia’, istilah untuk “balik arah” dari kebiasaan buruk menuju kebaikan. Masa ini meniru puasa Yesus di padang gurun, sebuah perjalanan spiritual untuk mengalahkan ego.

Teolog Katolik ternama, Henri Nouwen, pernah berkata bahwa puasa dan doa dalam Prapaskah adalah cara kita mengosongkan diri dari “berisiknya dunia” agar Tuhan bisa bicara di hati kita.

Menurut Nouwen, “Disiplin adalah cara kita menciptakan ruang di mana Tuhan bisa bertindak.” Ruang kosong yang tercipta karena kita berpantang, nantinya harus diisi dengan kasih kepada sesama.

Prapaskah bergerak dalam empat langkah nyata yang saling melengkapi. Dimulai dengan pertobatan untuk mengakui kesalahan diri di hadapan Tuhan, lalu disusul dengan puasa dan pantang sebagai sarana melatih diri agar tidak diperbudak keinginan pribadi sehingga kita lebih peduli pada mereka yang berkekurangan.

Langkah ini diperdalam melalui doa dan meditasi sebagai momen untuk “ngobrol” lebih intim dengan Tuhan di tengah kesibukan, yang kemudian memuncak pada amal kasih melalui aksi nyata seperti Aksi Puasa Pembangunan (APP) untuk membantu sesama yang sedang kesulitan.

Baca Juga :  Olahraga sebagai Jalan Menuju Keutamaan

Di tahun 2026 ini, Ramadan dan Prapaskah berjalan beriringan di waktu yang hampir sama. Meski caranya berbeda, keduanya punya satu muara yang indah: menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam Islam, tujuannya adalah mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan. Prinsip yang sama juga menghidupi masa Prapaskah umat Katolik.

Di tengah situasi politik kita yang sering kali “panas” dan penuh kepentingan pribadi, momen suci ini datang sebagai pengingat. Kita diajak untuk berhenti sejenak, melihat ke samping, dan sadar bahwa kita punya tanggung jawab sosial. Puasa dan Prapaskah seharusnya membuat kita lebih peduli pada keadilan dan keharmonisan bangsa, bukan malah terpecah belah.

Maka, biarlah kedua masa suci ini menjadi jalan-jalan setapak yang menuntun kita melampaui ego masing-masing. Saat rukuk dan sujud bersenyawa dengan heningnya jalan salib, di sanalah rahmat bersemi bagi pertiwi.

Kiranya dari rahim puasa dan tobat ini, lahir Indonesia yang lebih ranum dengan kasih, di mana setiap perbedaan adalah irama yang memperindah simfoni kehidupan, dan setiap doa adalah embun yang menyejukkan wajah kemanusiaan kita. *

Berita Terkait

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis
BENTARA NET: Memilih Berdiri Bersama ‘Rumah Bersama’
BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah
BENTARA NET: Memulihkan Jiwa Masa Depan
BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing
BENTARA NET: Di Balik Status yang Berakhir
BENTARA NET: Menanti Aksi untuk ‘Ruang Suci’
BENTARA NET: Pancawindu Kemanusiaan
Berita ini 80 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:03 WITA

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:27 WITA

BENTARA NET: Memilih Berdiri Bersama ‘Rumah Bersama’

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:29 WITA

BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah

Sabtu, 26 September 2026 - 10:59 WITA

BENTARA NET: Memulihkan Jiwa Masa Depan

Sabtu, 19 September 2026 - 11:05 WITA

BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:03 WITA

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA

Pembicara dan Petinggi Stipas Kupang pose bersama usai kuliah umum.

Nusa Bunga

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:46 WITA