Seni Pertunjukan sebagai Laboratorium Sosial (Sisip Gagas untuk Festival Siswa Flores Timur 2025) - FloresPos Net

Seni Pertunjukan sebagai Laboratorium Sosial (Sisip Gagas untuk Festival Siswa Flores Timur 2025)

- Jurnalis

Kamis, 18 September 2025 - 08:02 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

FESTIVAL Seni Pertunjukan Siswa Flores Timur 2025 dibuka meriah di Taman Kota Felix Fernandez (Rabu, 17/09/2025). Festival semacam ini merupakan sebuah perayaan budaya serentak mencerminkan dinamika pendidikan sosial yang hidup, reflektif, dan transformatif.

Dengan tema “Remaja Membaca Dirinya”, festival ini mengangkat seni sebagai medium pedagogis yang memungkinkan siswa menafsirkan realitas sosial mereka secara kritis dan kreatif. Inilah titik ‘lebih’ dan ‘penting’ dari pagelaran-pagelaran semacam ini.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, seni pertunjukan bukan hanya ekspresi estetika, melainkan juga ruang pembelajaran sosial. Paulo Freire menyebut pendidikan sebagai proses “pembebasan”. Peserta didik diajak untuk memahami dan mengubah dunia mereka.

Dalam konteks momen di Taman Kota ini, festival ini menjadi arena dialog antara siswa dan masyarakat, tempat mereka menyuarakan keresahan, harapan, dan identitas melalui musik, tari, dan teater.

Tema festival pun punya ‘keindahan’ tersendiri. Tema itu mengajak remaja untuk “membaca dirinya”. Bagi saya, aktivitas yang saya golongkan sebagai tindakan eksistensial manusia sebagai makluk rasional ini merupakan sebuah proses reflektif yang sangat penting dalam pembentukan identitas sosial.

Baca Juga :  Merawat Demokrasi: Menang Kalah Harus Bermartabat

Dalam konteks Flores Timur, di mana tradisi dan modernitas sering bersinggungan, seni pertunjukan menjadi jembatan yang memungkinkan remaja mengolah pengalaman lokal dan global secara simultan.

Sosiologi pendidikan melihat ini sebagai proses enkulturasi dan sosialisasi yang dinamis. Di titik ini, semua remaja tidak hanya mewarisi budaya, tetapi juga merekonstruksi makna-makna baru yang relevan dengan zaman mereka.

Bagi saya, festival ini juga menunjukkan bagaimana pendidikan bisa bersifat inklusif dan partisipatif. Keterlibatan berbagai sekolah, guru, pemerintah daerah, ASN, kelompok-kelompok seni dan masyarakat menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di ruang publik.

Tak berlebihan bila dikatakan bahwa Taman Kota Felix Fernandez menjadi “kelas terbuka” tempat nilai-nilai kebersamaan, keterbukaan, solidaritas, kerja sama, dan kreativitas dipraktikkan secara nyata. Dan, inilah contoh konkret dari pendidikan sebagai proses sosial yang melibatkan interaksi, institusi, dan nilai-nilai kolektif.

Festival baru ‘dibuka’. Namun, Festival Seni Pertunjukan Siswa Flores Timur 2025 akan menjadi sebuah bukti bahwa seni dapat menjadi cermin dan jalan bagi pendidikan yang lebih humanis dan kontekstual.

Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga soal keberanian untuk mendengar suara siswa, memberi ruang bagi ekspresi mereka, dan membangun masa depan bersama melalui budaya.

Baca Juga :  Human Trafficking, Retakan Moral Kolektif dan Tanggung Jawab Spiritual

Jika pendidikan ingin relevan dengan zaman, maka ia harus berani membuka diri terhadap bentuk-bentuk pembelajaran alternatif seperti festival ini. Melalui dan di dalamnya, siswa tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi juga belajar menjadi bagian dari perubahan dunia itu sendiri.

Seniman Indonesia, Dhimas Tirta Franata, pernah menulis (yang dipublikasikan di Kompasiana pada tanggal 26 Maret 2025): “Seni bukan hanya soal estetika, tetapi juga tentang membangun pemahaman dan kreativitas. Melalui seni, siswa bisa mengembangkan keterampilan berpikir kritis, empati, dan kreativitas yang sangat dibutuhkan dalam pendidikan modern”.

Pikiran Franata sejalan dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics), yang menempatkan seni sebagai elemen penting dalam pembelajaran abad ke-21.

Festival seni pertunjukan seperti yang digelar di Flores Timur bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga laboratorium sosial tempat siswa belajar menjadi subjek perubahan. Bukan sekadar objek pendidikan.*

Penulis, Komunitas Teater Atma Reksa Ende

Berita Terkait

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh
Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi
Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)
Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Berita ini 51 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 11:57 WITA

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh

Kamis, 23 April 2026 - 19:17 WITA

Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi

Kamis, 23 April 2026 - 09:10 WITA

Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Masih Banyak Pekerja di Sikka Mendapat Upah Tak Sesuai UMR

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:55 WITA

Nusa Bunga

Polres Ende Hadirkan Pos Pol Airud di Desa Keliwumbu

Kamis, 30 Apr 2026 - 21:13 WITA

Nusa Bunga

Pengawas Ketenagakerjaan hanya Ada Dua di Flores dan Lembata

Kamis, 30 Apr 2026 - 19:31 WITA