Ketimpangan yang Membunuh - FloresPos Net

Ketimpangan yang Membunuh

- Jurnalis

Selasa, 9 September 2025 - 09:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

GELOMBANG protes yang melanda Indonesia baru-baru ini bukan sekadar luapan emosi sesaat. Ia adalah manifestasi dari luka sosial yang telah lama terpendam.

Menurut saya, yang terpendam itu adalah ketimpangan struktural yang semakin mengakar dan elite politik yang kian jauh dari denyut kehidupan rakyat.

Dalam wawancara bersama Amy Goodman di New York pada 5 September 2025, seperti yang ditayangkan oleh Democracy Now! dalam segmen berjudul “Indonesia Protests: At Least 10 Killed, Thousands Arrested Amid Police Crackdown, sorotan tajam diarahkan pada akar persoalan: ketidaksetaraan yang brutal dan ketiadaan akuntabilitas dalam sistem demokrasi Indonesia.

Salah satu fakta yang mencolok adalah besarnya tunjangan perumahan bagi anggota legislatif, yang mencapai sepuluh kali lipat dari upah minimum di Jakarta. Ini bukan sekadar soal angka, melainkan simbol dari jurang sosial yang semakin dalam.

Ketika para wakil rakyat menikmati fasilitas mewah yang tak terjangkau oleh mayoritas konstituennya, maka demokrasi kehilangan makna representatifnya. Mereka yang seharusnya menjadi suara rakyat justru hidup dalam gelembung privilese yang terputus dari realitas sosial.

Baca Juga :  Menata Arah Pendidikan dengan Pikiran Strategis

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah respons negara terhadap protes tersebut. Sedikitnya sepuluh orang tewas dan ribuan lainnya ditangkap dalam tindakan represif aparat.

Di tengah tuntutan akan keadilan dan transparansi, negara justru memilih pendekatan kekerasan. Video viral yang memperlihatkan seorang pengemudi ojek daring ditabrak kendaraan aparat dan kemudian meninggal dunia menjadi simbol tragis dari sistem yang tak hanya abai, tetapi juga brutal terhadap warganya sendiri.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketimpangan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga ancaman terhadap kohesi sosial dan legitimasi politik.

Ketika suara rakyat dibungkam, ketika kritik dianggap ancaman, maka demokrasi berubah menjadi ilusi. Protes bukanlah ancaman terhadap negara, melainkan cermin dari kegagalan negara dalam memenuhi janji-janji konstitusionalnya.

Dalam konteks ini, publik perlu mendorong lahirnya narasi baru. Narasi yang menuntut akuntabilitas, transparansi, dan keberpihakan terhadap keadilan sosial.

Media, termasuk pula akademisi dan masyarakat sipil harus bersatu untuk mengawal demokrasi agar tidak terjebak dalam formalitas prosedural yang hampa. Ketika suara rakyat hanya dihitung saat pemilu, tetapi diabaikan dalam proses legislasi dan pengawasan, maka demokrasi telah terjebak dalam formalitas prosedural yang hampa.

Baca Juga :  Pentingnya Riset (Penelitian) dan Pengabdian Kepaada Masyarakat di Perguruan  Tinggi

Mengawal demokrasi berarti mendorong partisipasi bermakna, memperkuat mekanisme akuntabilitas, dan memastikan bahwa kekuasaan dijalankan dengan etika publik.

Demokrasi yang hidup bukan hanya tentang memilih, tetapi tentang didengar dan dilibatkan secara terus-menerus. Dengan kata lain, demokrasi sejati bukan hanya soal pemilu, tetapi tentang bagaimana kekuasaan dijalankan dengan tanggung jawab dan keberpihakan terhadap yang lemah.

Protes yang terjadi bukan akhir, melainkan awal dari pertarungan panjang untuk merebut kembali ruang publik yang sehat dan bermartabat.

Ketimpangan yang membunuh harus dilawan dengan solidaritas yang hidup. Dan dari tragedi ini, semoga lahir kesadaran kolektif bahwa demokrasi tanpa keadilan sosial hanyalah panggung kosong yang perlu dikoreksi.*

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Berita ini 60 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Minggu, 13 September 2026 - 21:30 WITA

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Minggu, 13 September 2026 - 18:35 WITA

Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores

Minggu, 13 September 2026 - 17:01 WITA

Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten

Berita Terbaru

Opini

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 Sep 2026 - 14:58 WITA

Nusa Bunga

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri

Senin, 14 Sep 2026 - 10:02 WITA