Gelassenheit, Phronesis, Transendensi Perempuan dan Narrative Identity (Menghormati Prof. Dr. Intje Kleden) - FloresPos Net

Gelassenheit, Phronesis, Transendensi Perempuan dan Narrative Identity (Menghormati Prof. Dr. Intje Kleden)

- Jurnalis

Senin, 11 Agustus 2025 - 15:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

HARI ini, sejarah kecil dari kampung Waibalun kembali menorehkan jejak besar di panggung akademik nasional.

Dr. Dra. Maria Agustina Kleden, M.Sc, yang akrab disapa Ibu Intje Kleden, saudari kandung dari Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup Agung Ende, telah dikukuhkan sebagai Profesor di Universitas Nusa Cendana Kupang.

Sebuah pencapaian yang bukan hanya milik Beliau, tetapi juga milik seluruh ‘anak kampung’ yang percaya bahwa kesederhanaan bisa melahirkan keagungan.

Prof. Intje Kleden adalah sosok yang tidak pernah memburu sorotan, namun justru menjadi cahaya bagi banyak orang. Ia adalah Doktor Matematika perempuan pertama dari Kabupaten Flores Timur.

Baca Juga :  Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan

Bagi saya ini merupakan sebuah fakta yang tak hanya mencerminkan prestasi, tetapi juga keberanian untuk menembus batas-batas yang selama ini jarang melirik potensi perempuan dari kampung kecil. Dari Waibalun yang mungil, beliau melangkah pasti ke dunia ilmu pengetahuan dengan kalkulasi yang jernih dan hati yang penuh kerelaan.

Dalam setiap interaksi, Prof. Intje menunjukkan bahwa keilmuan tidak harus tampil dengan gemuruh, tetapi bisa hadir dalam kesenyapan yang penuh makna.

Ia adalah pribadi yang penuh perhitungan, namun tidak kehilangan kelembutan. Ia adalah pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menghidupi nilai-nilai: kesederhanaan, ketekunan, dan cinta akan tanah kelahiran.

Baca Juga :  Rocky Gerung: Sang Provokator Intelektual

Prof. Intje Kleden hadir sebagai pemikir yang tajam, namun tetap rendah hati. Ia tidak hanya menyumbangkan ide, tetapi juga memberi diri. Ia turut pula menyediakan hadiah, bingkisan, dan semangat untuk kegiatan literasi di kampung halaman.

Pengukuhan beliau sebagai Profesor bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan penanda bahwa ilmu dan kampung bisa berjalan beriringan. Bahwa seorang perempuan dari Waibalun bisa menjadi simbol ketekunan akademik dan kepedulian sosial. Bahwa kesederhanaan bisa menjadi jalan menuju keagungan.

Dalam dunia yang sering mengagungkan pencapaian eksternal dan popularitas, Prof. Intje Kleden memilih jalan yang lebih sunyi namun bermakna: menjadi cahaya tanpa memburu sorotan.

Berita Terkait

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Berita ini 314 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA

Pembicara dan Petinggi Stipas Kupang pose bersama usai kuliah umum.

Nusa Bunga

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:46 WITA