Oleh: Gerald N. Bibang
DI hari Pentekosta, lilin paskah sudah tiada; tapi lilin-lilin lain tidak mati; Roh Kudus turun membuat terang abadi; hic et nunc, sekarang dan di sini, di dunia ini.
Di hari-hari mendatang, lilin-lilin itu tidak pernah padam; mereka mewujud dalam diri manusia-manusia pencari kebenaran; karena dengki dan kebohongan tidak pernah punya pangkal paha; sejauh-jauh mereka berlari; sekali waktu akan terkejar dan tercekik sendiri; dusta, cawe-cawe, dengki dan munafik tak pernah abadi.
Dengan lilin-lilin bernyala itu berdekatan-lah kami dengan kebenaran meski sering terasa berjauhan; kadang rasa teramat jauh tapi nurani kami merasa sangat dekat; seperti langit dan warna biru, seperti sepi menyeru dan diam yang membisu.
Dengan lilin-lilin bernyala itu, kami kandung kebenaran seperti mengandung mimpi; terendam di kepala tapi sayup-sayup sampai; hanya sunyi di bawah terang lilin mengajari kami agar tidak mencla mencle alias tidak mendua; agar berani berkata dan bertindak benar; agar satunya kata dan perbuatan adalah manusia yang benar-benar manusia; yang benar-benar manusia beretika; bukan manusia yang adalah binatang yang dikaruniai otak.
Di hari-hari mendatang sesudah Pentekosta; kami mencari pemimpin dan presiden yang anti korupsi, anti kolusi, anti munafik dan anti dusta; lilin-lilin itu tentu memberi terang; dan menumbuhkan mata yang bening dalam pikiran, perasaan dan seluruh jiwa kami; sebab tidak tahu lagi apa yang baik bagi hari esok kami; kini dan di sini, bumi kami baru saja habis diporak-porandakan sendiri oleh pemimpinnya yang licik dan cari untung sendiri; atas nama kata-kata dan niat yang saleh dan suci; sementara kami abai terhadap kasih-Mu yang abadi.
Lilin-lilin ini ialah kami-kami yang disemayamkan Roh Kudus dalam sanubari masing-masing; IA-lah penunjuk atas apa yang harus kami ucapkan di dalam doa-doa kami; betapa besarlah kerinduan kami untuk rebah di pangkuan-NYA; sambil menumpahkan tangis dan derita kami dalam mencari pemimpin dan presiden yang anti korupsi, anti kolusi dan anti munafik; krn mengejar mereka seperti mengejar bayang-bayang di senja yang remang-remang sepi; kata-kata mereka tak bisa kami rangkai; kalimat demi kalimat mereka makin kabur maknanya, tiada satu kata pun punya arti; sedang mulut kami seperti dikunci oleh pikiran-pikiran yang buntu dan perasaan yang mati.
Untunglah Roh Kudus di sanubari menunjukkan garis-garis yang membedakan seribu warna kehidupan kami; agar bangkit dari rendahnya mutu kehidupan kami dan berusaha melawan salah sangka luar biasa dalam peradaban kami; yang menganggap dunia adalah surga; yang menyangka bahwa menikmati dunia identik dengan menikmati surga; yang mempersamakan begitu saja dunia adalah surga; yang menganggap surga adalah urusan nanti di dunia sebelah sesudah kematian; dan bahwa surga adalah konstruksi ide-ide dari para pemalas dan penikmat-penikmat bebal yang memiliki otak sepenggal.
Untunglah ada lilin-lilin yang bernyala itu; mereka-lah yang menunjukkan ada Sang Maha Cahaya Sang Maha Terang; pengendali kereta dan perahu kami; sebab hanya Sang Maha Terang-lah Yang Mahatahu di mana letak rumah-NYA yang kami tuju; di mana kebenaran itu berada; yang tak pernah mati di tangan pendengki, pembebal dan pendusta; yang akan nongol dengan sendirinya di suatu saat yang tak disangka-sangka. *
Hic et nunc (kata Latin)=di sini dan sekarang
GNB (tmn aries, jkt:minggu:19.5.24:hari raya Pentekosta)










