P e t a n i - FloresPos Net

P e t a n i

- Jurnalis

Sabtu, 23 September 2023 - 16:56 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Benediktus Kasman

BUNG Karno, proklamator dan presiden RI pertama pernah berpidato: “Petani Sebagai Pemegang Estafet Tiang Agung Negara Indonesia”.

Kata akronim petani menggambarkan dua peristiwa: pertandingan lari maraton dan kapal berlayar.

Tiang agung berukuran besar dipasang di tengah-tengah bangunan kapal berlayar.

Petani diasosiasikan pemegang tongkat estafet pertama lalu berlari menyerahkannya pada pihak kedua dan seterusnya.

Nelayan dan petani pada masa itu sekitar 70%. Hasil kerja mereka menyumbangkan pemenuhan pangan buat mengenyangkan perut segenap warga negara.

Kesadaran akan fakta ini maka ia terus menggugat semangat rakyatnya.
Tatkala ia berkunjung ke kabupaten Sikka pada 1950, 1954 dan 1957 tetap memotivasi rakyat.

Kedatangannya telah menjadi kenangan historis buat warga Sikka di masa itu.
Hal yang tak dapat dilupakan dalam lawatan kenegaraannya itu adalah pidatonya pada 1957: “Di atas panggung di rumah raja Thomas, founding father itu mengatakan rakyat harus kerja dan kerja untuk merdeka dan politik”.

Baca Juga :  Politik Adalah “Sakramen”

Dan sampai-sampai pada 1958, ia mengatakan “pertanian mesti dibangun, bukan industri”.

Keberpihakan pada mayoritas rakyat yang bekerja di sektor pertanian dan bahari pun diteruskan presiden pasca Soekarno.

Hingga Joko Widodo dalam satu butir Navacita: “bangun Indonesia dari pinggiran”.

Sorotan dunia pertanian tak hanya pemimpin negara dari awal berdirinya RI hingga di usianya yang ke-78 tahun.
Para pegiat sosial swasta dan para profesional tak pernah sepi mengubah pikiran warga agar selalu bangga menjadi petani.

Salah seorang profesional Harbrinderjit Singh Dillon mengutarakan “44% penduduk kita masih bekerja di sektor pertanian. Juga 66% penduduk kita tinggal di daerah pedesaan.

Karena itu tugas utama kita adalah menyediakan kesempatan kerja dan usaha sekitar pertanian.

Oke, ketahanan pangan nasional tak cukup hanya mencakup persediaan pangan, stabilitas dan keterjangkauan harga saja.

Baca Juga :  Demokrasi di Balik Citra: Ketika Penampilan Mengalahkan Substansi dalam Politik Indonesia

Tapi, juga benar-benar menjamin perubahan pendapatan petani Indonesia secara keseluruhan. Bertani tak cukup berjargon melulu.

Pekerjaan yang kotor ini “sukar sulit mama luit”, pinjam pengalaman para petani di dusun-dusun Manggarai.

Memang separoh warga berpikir bahwa kerja kotor ini kurang keren. Tapi, kesaksianku masih ada warga menganggap pertanian sebagai primadona.

Ketegaran hati mereka tak lentur. Mungkin dapat aku membayangkan perjuangan kerja-kerja petani dengan kisah kuno ini.

Sisypus dalam Mitologi Yunani mengibaratkan pekerjaan menguras tenaga: “Atas suruhan, Sisypus mesti mendorong batu mulai dari kaki bukit hingga ke puncak. Setiap kali hampir tiba di puncak bukit, batu menggelinding kembali ke kaki bukit.”

Tapi, ia tak mau menyerah. Pekerjaan itu diulanginya berkali-kali, tanpa henti.
Ia kemudian menjadi simbol pekerja sejati. *

Penulis, adalah Pegiat Sosial, Tinggal di Maumere

Berita Terkait

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’
Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan
Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma
Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Berita ini 59 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:29 WITA

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:25 WITA

Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:17 WITA

Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma

Senin, 27 Juli 2026 - 06:33 WITA

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:01 WITA

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Mahasiswa KKN Unwira Kupang Bantu UMKM Masuk Pasar Digital

Jumat, 31 Jul 2026 - 10:50 WITA

Nusa Bunga

History VBC Ende ke Babak 8 Besar Soekarno Cup 1

Kamis, 30 Jul 2026 - 22:38 WITA