Hendaknya, karya kemanusiaan kita terfokus pada keadilan yang merata. Tidak bersikap egois, tidak mengutamakan suku, agama, etnis dan kelompok tertentu hanya karena ada orang dalam atau otoriter jabatan yang diemban rakyat untuk sementara waktu.
Mari kita menyatukan hati dan bersolider dengan para korban dalam bingkai kesiapsiagaan bencana dan aksi nyata untuk bersolidaritas dengan sesama para korban gempa tektonik Flores di bawah satu tekad untuk sehati-sejiwa bersolider dengan para korban di sini dan saat ini (hic et nun).
IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Sebagaimana yang telah kami uraikan terdahulu bahwa bencana gempa tektonik Flores ini mengakibatkan korban jiwa berjatuhan dan kehancuran bangunan rumah warga dan fasilitas umum.
Gempa ini juga meninggalkan trauma dan tekanan psikologis bagi warga terdampak.
Warga terdampak dalam situasi ke-khaos-an (ketidakteraturan) itu memilih mengungsi dan tinggal di tenda-tenda dengan fasilitas seadanya. Mereka memilih di halaman rumah, di lapangan terbuka, bebukitan atau tempat yang dianggap aman lainnya.
Kondisi seperti ini dialami semua warga terdampak di Flores, termasuk Kabupaten Ngada.
Pemerintah setempat telah berusaha maksimal untuk memberikan pertolongan. Namun karena keterbatasan dan kekurangan sumber daya, khususnya terkait SDM, dana, teknologi dan sarana transportasi maka penanganan pasca gempa bumi terhadap seluruh warga terdampak gempa di pelosok Flores belum berjalan maksimal.
Meskipun pemerintah setempat sudah berupaya maksimal melakukan intervensi penanganan, namun ada juga desa-desa tertentu yang belum terjangkau karena keterbatasan infrastruktur jalan dan sarana transportasi.
Tak heran, ada desa tertentu yang mengalami kerusakan sangat parah terdampak gempa namun belum tersentuh dan terjangkau bantuan pemerintah maupun lembaga-lembaga lain.









