Tujuh, Kabupaten Ende jumlah rumah yang sudah terverifikasi sebanyak 295 rumah dengan rincian rusak berat ada 1 rumah, rusak sedang 14 rumah, dan rusak ringan 184 rumah.
Selain menyebabkan korban nyawa dan luka, serta kerusakan bangunan gempa tektonik ini menimbulkan ke-khaos-an di kalangan warga terdampak, apa pun suku, agama, ras dan golongannya.
Solidaritas Kemanusiaan dan Urgensitas Kesiapsiagaan Bencana
Musibah gempa tektonik yang merenggut ratusan nyawa dan merusakkan puluhan ribu rumah dan fasilitas umum di atas mengundang empati atau belarasa dari pelbagai elemen bangsa, apa pun suku, agama, ras dan golongannya.Semua elemen bangsa terpanggil untuk melakukan aksi solidaritas dan menjalankan misi kemanusiaan di Flores.
Beberapa lembaga yang terlibat dalam aksi kemanusiaan di antaranya Pemerintah Pusat, BNPB, Basarnas, TNI-Polri, Pemprov Jawa Barat dan Gubernur KDM, DKI Jakarta, Pemprov NTB, Pemprov Maluku Utara, Walikota Kupang, Kabupaten Sumba Barat Daya, pimpinan/organisasi TNI/Polri, PVMBG, PMI, partai politik, pihak keuskupan yang bernaung di bawah Provinsi Gerejani Regio Nusa Tenggara, kongregasi seperti Ordo Karmel, SVD, Imam Diosesan, biarawan-biarawati, para relawan, dan Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Lemhannas RI, serta para donatur lainnya.
Para donatur termasuk IKAL Lemhannas bersolidaritas dan bergerak dalam misi kemanusiaan untuk meringankan para korban yang terdampak gempa tektonik berkekuatan 7,7 skala ricther itu.
Sebagaimana kita ketahui, pasca terjadinya gempa tektonik ini tampak pemerhati kemanusian dan otoritas pemerintah terlibat aktif dalam aksi mengevakuasi jenazah, mengevakuasi pengungsi; menggalang bantuan dan mendrop bantuan, dan aksi kemanusiaan lainnya.
Tim yang terlibat dalam misi kemanusiaan itu memperlihatkan solidaritas, kerja sama (teamwork), suasana persaudaraan, kerja sama, sikap tolong menolong, dan pelbagai nilai positif lainnya yang melampaui sekat suku, agama, ras dan antargolongan.
Kepedulian kemanusiaan dan wujud kesiapsiagaan bencana di atas memberi warna tersendiri dan kekuatan di kalangan warga yang berduka dan korban bencana untuk merajut dalam sebuah lembaran kehidupan baru. Suatu lembaran yang memberi ruang untuk saling menolong, peduli terhadap sesama, rela berkorban, dan aspek kemanusiaan lainnya.









