Jika kita gagal menyesuaikan kebijakan berdampak pada pendidikan tinggi keagamaan kita, maka kita akan menghasilkan lulusan yang fasih menjawab pertanyaan yang justrusaa tini dan kedepannya tidak lagi ditanyakan oleh umat kita.
Sebab tujuan akhir Pendidikan Tinggi Teologi Pastoral bukan mencetak sarjana yang pintar berdebat tentang Tuhan di kelas, tapi mencetak gembala yang harum baunya seperti domba termasuk domba-domba di benua digital, katanya.
Kakan Kemenag berharap melalui seminar ini, kita semua dapat berdiskusi secara produktif, menguliti tantangan yang ada serta merumuskan langkah-langkah konkret:
Bagaimana kebijakan di tingkat kampus dapat mendorong riset yang aplikatif, pengabdian masyarakat yang berkelanjutan, serta pembentukan karakter mahasiswa yang tangguh, adaptif, dan tetap berakar pada iman.
Semoga dari ruangan ini lahir ide-ide segar, gagasan kontekstual serta komitmen bersama untuk menghadirkan kebijakan pendidikan yang benar-benar berdampak bagi generasi muda, gereja, dan bangsa, katanya.
Sangat Relevan
Sementara Ketua STIPAS Santo Sirilus Ruteng, Dr. Rikardus Jehaur, S.Fil, M.Th dalam sambutan antara lain mengemukakan tema yang diusung dalam seminar nasional ini sangat relevan dengan pendidikan tinggi saat ini yang dituntut untuk tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi tetapi juga memastikan bahwa kemajuan tersebut sungguh melayani manusia dan menjawab persoalan nyata dalam masyarakat.
Bagi Stipas pendidikan pastoral tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademis tetapi juga pribadi yang matang dalam iman, berintegritas, peka terhadap persoalan sosial dan mampu menghadirkan pelayanan yang bermakna bagi gereja dan masyarakat.
Penulis : Wall Abulat
Editor : Wentho Eliando










