Ketiga, Indonesia merespons lewat Diktisaintek Berdampak, IKU 2025-2029 dan Pemen 39/2025-arahnya selaras dengan wacana global.
Keempat, tantangannya ada pada desain: menjadikan dampak logika, kurikulum, riset, kemitraan, dan tata kelola-bukan sekadar indikator.
Tantangan dan Peluang
Sementara Dr. Fredrikus Djelahu Maigahoaku, S.Fil, M.Pd dalam materi bertajuk Menggagas Desain Perguruan Tinggi Berdampak di Era 5,0 Society – Kontribusi Pemikiran Bagi Pengembangan Perguruan Tinggi Keagamaan Katolik di NTT antara lain menyebut tantangan dan peluang society 5.0.
Pertama, peluang: Kampus Kecil Bisa Menang: fleksibel, inovatif; fokus pada keunggulan lokal; budaya lokal sebagai kekuatan: penguatan nilai budaya Manggarai dalam riset dan pembelajaran; sinergi LKP-PT: kolaborasi lembaga kursus & pelatihan dengan Perguruan Tinggi; pencetak mahasiswa baru: mahasiswa sebagai job creator berbasis ekonomi kreatif; dan misi pastoral katolik: pendekatan berkarakter melayani dan berkolaborasi.
Kedua, tantangan yang bakal terjadi: kesenjangan digital: keterbasan akses internet dan perangkat di wilayah Flores; kesenjangan teknologi: minimnya sarana Artificial Intelligency (AI) dan laboratorium teknologi; risiko dehumanisasi: teknologi mengurangi interaksi humanis & empati; kurikulum tertinggal: materi belum relevan dengan kebutuhan society 5.0; dan regulasi & pendanaan: kebijakan terbatas & pendanaan riset yang belum memadai.
Kompetensi Lulusan PT yang Diperlukan di Era 5.0
Kakan Kemenag Kabupaten Manggarai Ponsius Mudin, S.Fil dalam sambutanya saat membuka seminar nasional antara lain mengemukakan bahwa di tengah disrupsi teknologi, kompetensi yang dibutuhkan Perguruan Tinggi bukan lagi sekadar literasi digital dasar, melainkan literasi data, teknologi, dan manusia.
Kakan Kemenag meminta Perguruan Tinggi Keagamaan Katolik, termasuk STIPAS untuk membekali mahasiswa dengan empat kompetensi berikut.
Penulis : Wall Abulat
Editor : Wentho Eliando










