Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi - FloresPos Net - Page 3

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

- Jurnalis

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Untuk menghindari jebakan tersebut, kajian ilmiah yang ditawarkan haruslah bersifat inklusif dan partisipatif. Metodologi penelitian wajib mengintegrasikan kearifan lokal serta menyerap suara masyarakat secara langsung, bukan hanya mengandalkan data teknis laboratorium.

Hal ini penting agar proses pengambilan keputusan tidak menutup mata terhadap kerentanan ekologis yang spesifik, serta tidak mengabaikan nilai spiritual yang melekat erat pada tanah leluhur.

Pada akhirnya, seluruh rencana pengembangan WKP Oka Ile Ange harus diuji ulang dengan standar keadilan ekologis yang jauh lebih tinggi dan transparan.

Baca Juga :  Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Saya membayangkan bagaimana Gereja di Flores akan terus berdiri teguh di sisi masyarakat kecil dan alam ciptaan yang tak bersuara. Institusi ini akan terus mendesak pemerintah untuk tidak hanya melihat tanah sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga menghormati hakikat tanah yang dalam konteks budaya Flores dinilai sebagai entitas yang sakral.

Baca Juga :  Pers, Pelita Abadi dan Wahyu Keindahan

Paradigma pembangunan yang berkelanjutan sejatinya tidak boleh mengorbankan harmoni antara manusia dengan alam sekitarnya. Setiap kebijakan publik harus menempatkan martabat manusia dan kelestarian ciptaan sebagai fondasi utama yang tidak bisa ditawar. Jika fondasi ini diabaikan, maka klaim sebagai ‘pulau energi hijau’ hanyalah sebuah ironi yang meninggalkan derita ekologis dan sosial yang mendalam bagi generasi mendatang. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Berita ini 49 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Jumat, 25 September 2026 - 11:45 WITA

Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Atasi Sampah, DLHP Sasar Anak-Anak dan Ibu Rumah Tangga Labuan Bajo

Selasa, 29 Sep 2026 - 19:46 WITA