Melalui pendekatan persuasif berbasis data keilmuan ini, pemerintah berharap dapat mencegah kesalahpahaman, meredam dinamika sosial yang tidak perlu, dan memastikan kelancaran proyek demi kesejahteraan masyarakat Flores Timur secara berkelanjutan.
Di sejumlah wilayah di Flores, narasi rencana dan pembangunan semacam ini telah menuai kritik tajam dari perspektif Gereja. Lembaga keagamaan ini tengah gencar menyuarakan penolakan terhadap proyek panas bumi yang mulai menjamur di berbagai titik di Pulau Flores.
Kekhawatiran ini muncul karena eksplorasi geothermal membawa ancaman nyata dan destruktif, mulai dari kerusakan hutan lindung, hilangnya sumber mata air kehidupan, hingga terganggunya keseimbangan alam yang sudah terjaga selama berabad-abad.
Sikap kritis ini menggemakan ajaran ensiklik Laudato Si’ tentang ekologi integral, yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari iman. Oleh karena itu, penolakan ini sama sekali bukan bentuk anti-pembangunan atau penghambat kemajuan.
Sebaliknya, ini merupakan panggilan profetik untuk menjaga rumah bersama yang kerap diabaikan dan dikorbankan demi mengejar target energi nasional yang berorientasi pada angka semata.
Terkait penekanan bupati pada pentingnya sosialisasi yang melibatkan para ahli, Gereja mesti selalu mengingatkan agar proses ini tidak direduksi menjadi alat legitimasi sepihak belaka.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa sosialisasi kerap dimaknai sebagai upaya persuasi halus agar masyarakat pasrah menerima keputusan yang sebenarnya sudah ditetapkan secara kaku dari pusat. Praktik semacam ini jelas mengabaikan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) yang seharusnya diterapkan secara murni dan konsekuen.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










