Kedua, memiliki _headway_ rapat berkisar antara 15–20 menit, menjamin ketersediaan angkutan secara teratur dari pagi hingga sore hari.Ketiga, memiliki jaringan halte dan selter yang rapat di sepanjang tepi jalan arteri.
Keempat, memiliki tarif terjangkau sebesar Rp 5.000 untuk penumpang umum dan Rp 1.000 bagi buruh, pelajar, serta veteran; dan Kelima, segmentasi penumpang komuter harian (pekerja pabrik, pelajar) di koridor sentra industri (Sukoharjo), fasilitas pendidikan, dan pusat aktivitas urban/kota.
KA Batara Kresna (rail transit berbasis jalur rel),Pertama, memiliki 4 perjalanan per hari dengan jadwal keberangkatan tetap (keberangkatan dari Stasiun Purwosari (Solo) di pagi hari pukul 06.00 WIB dan siang hari pukul 10.00 WIB serta keberangkatan dari Stasiun Wonogiri di pagi hari pukul 08.00 WIB dan siang hari pukul 12.00 WIB.
Kedua, memiliki waktu tempuh pasti tanpa terpengaruh kemacetan jalan arteri pada jam-jam sibuk, melintasi rute unik rel kota di Jalan Slamet Riyadi, Stasiun Solo Kota, Stasiun Sukoharjo, Stasiun Pasarnguter, hingga Stasiun Wonogiri.
Ketiga, menerapkan tarif perintis (PSO) flat sebesar Rp4.000 per perjalanan dan Keempat, segmentasi penumpang end-to-end yang tidak terikat waktu ketat, pedagang pasar yang membawa barang dagangan, lansia, kelompok rombongan, serta wisatawan yang memanfaatkan suasana perjalanan santai.
Manfaat nyata bagi masyarakat dan daerah
Sinergi antara Trans Jateng dan Batara Kresna memberikan dampak yang signifikan bagi Koridor Selatan Subosukawonosraten.
Pertama, proteksi daya beli pekerja berpenghasilan UMK, dengan tarif harian yang sangat terjangkau (Rp 1.000–Rp 5.000 per perjalanan), pengeluaran transportasi pekerja dapat ditekan hingga di bawah Rp 200.000 per bulan (hanya sekitar 8–9% dari rata-rata UMK).










