Menjadi Korban Bukanlah Identitas Abadi - FloresPos Net - Page 4

Menjadi Korban Bukanlah Identitas Abadi

- Jurnalis

Kamis, 6 Agustus 2026 - 22:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketiga, pendampingan komunitas berbasis praksis lokal. Para korban hendaknya didampingi sedemikian, sehingga mereka dapat masuk ke dalam ruang sosial konkret, baik gereja, sekolah, kelompok adat, maupun komunitas perempuan.

Dalam ruang sosial seperti ini mereka dapat dilatih untuk mendengungkan kembali suara mereka yang pernah dibungkam, untuk mengambil keputuan sendiri bagai tubh dan hidupnya, untuk menyulam solidaritas sosial, sehingga pemulihan tidak berhenti pada empati, tetapi menjadi pemulihan relasi dan daya hidup komunitas.

Keempat, evaluasi reflektif dan penulisan ulang pengalaman. Pengalaman para korban, betapapun getir dan traumatisnya, harus dinarasikan kembali dengan intonasi dan nada transformatif.

Baca Juga :  Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Dengan begitu, pemulihan tiak jatuh ke dalam logika belaskasihan pasif, tetapi bergerak menuju pemulihan martabat dan agensi subjek.

Tujuan seluruh proses ini adalah pengakuan. Namun pengakuan yang dimaksud bukanlah pengakuan yang membekukan seseorang dalam identitas penderitaan. Sebaliknya, pengakuan merupakan langkah pertama menuju keadilan dan pemulihan.

Masyarakat yang manusiawi bukanlah masyarakat yang berhasil menghapus seluruh korban—sebuah cita-cita yang nyaris mustahil selama ketidakadilan masih ada.

Baca Juga :  Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

Masyarakat yang manusiawi adalah masyarakat yang mampu melihat korban sebagai manusia seutuhnya: pribadi yang pernah mengalami ketidakadilan, tetapi tidak ditentukan oleh pengalaman itu.

Sebab menjadi korban adalah sebuah situasi yang dapat dialami siapa saja, sedangkan yang tetap melekat pada setiap manusia adalah martabatnya, bukan lukanya.

* Dr. Polykarp Ulin Agan, Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.

Berita Terkait

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas
Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik
Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran
Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan
Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende
Sumpah yang Dimudahkan
Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berita ini 76 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:33 WITA

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas

Senin, 2 November 2026 - 13:09 WITA

Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik

Senin, 2 November 2026 - 09:21 WITA

Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:26 WITA

Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende

Berita Terbaru