Menjadi subjek atas kehidupan tidak berarti dengan sendirinya menghapus segala pengalaman traumatis yang pernah menghantarnya sebagai “korban“. Tetapi dengan menggenggam sendiri narasi kehidupan, seseorang dapat menyusun ulang segala pengalaman traumatis itu menjadi serpihan pelangi yang dapat membangun identitas yang lebih utuh dan bermakna.
Meski demikian, pendekatan naratif juga menyimpan bahaya jika dipahami secara keliru. Penekanan yang berlebihan pada subjektivitas dapat melahirkan ilusi bahwa seseorang sepenuhnya membangun dirinya sendiri.
Padahal, menurut Ricoeur, identitas selalu bersifat relasional. Kedirian (selfhood) hanya bertumbuh melalui pengakuan, kesaksian, dan relasi dengan orang lain. Seseorang menjadi “aku” karena ada “engkau” yang mengakui keberadaannya.
Dengan demikian, proses pemulihan tidak pernah berlangsung secara soliter, melainkan selalu lahir dalam ruang sosial yang memungkinkan seseorang dikenali kembali sebagai pribadi yang bermartabat.
Empat Langkah Strategis Pemulihan Korban dalam Konteks NTT
Korban perdagangan orang dan kekerasan seksual yang marak di Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu dipulihkan, bukan dilanggengkan sebagai “identitas penderitaan”. Mengikuti alur narasi seorang Paul Ricoeur, pemulihan sejati harus mampu masuk dalam sebuah area „pemulihan ipse“.
Yang dimaksudkan adalah pemulihan yang dilakukan sedemikian sehingga subjek yang dilabelkan sebagai korban dapat dimampukan untuk kembali berkata „aku“, bukan larut dalam sebuah sindrom belaskasih sebagai korban.
Atas dasar itu, sedikitnya terdapat empat langkah strategis yang dapat dikembangkan.
Pertama, pemetaaan narasi luka secara partisipatif. Pada tahap ini para korban harus dapat menunjukkan lukanya sendiri, bukan ditunjukkan atau bahkan direkayasa oleh pihak pendamping atau pembina.
Berdasarkan frase: “Luka hanya dapat disembuhkan kalau ia ditunjukkan“, para korban diarahkan sedemikian, sehingga mereka mampu membahasakan dan menarasikan luka, bahkan luka traumatis sekali pun.
Kedua, rekonstruksi identitas melalui interpretasi kritis. Kisah-kisah yang telah diungkapkan perlu dibaca secara reflektif untuk menemukan pola penderitaan, sumber daya ketahanan, relasi sosial yang rusak, sekaligus kemungkinan-kemungkinan pemulihan.
Dalam tahap ini, seseorang tidak lagi dipertahankan sebagai “korban”, tetapi perlahan dibantu membangun identitas baru sebagai penyintas yang tetap memiliki kemampuan bertindak, memilih, dan memberi makna atas kehidupannya sendiri.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









