Oleh: Yohanes Kia Nunang
SETIAP 28 Oktober, bangsa Indonesia mengenang momentum monumental Sumpah Pemuda 1928. Di tanggal itulah para pemuda dari latar suku, agama, dan daerah yang berbeda-beda memutuskan menanggalkan ego primordial demi satu ikrar: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.
Namun peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini menyisakan luka batin. Hari yang seharusnya menjadi ruang refleksi kebangsaan justru dinodai oleh pemandangan memilukan.
Muncul sekelompok orang yang mengatasnamakan mahasiswa, namun bergerak di atas fondasi transaksional. Mereka diduga dibayar untuk melayani kepentingan segelintir kelompok.
Ironisnya, kehadiran mereka tidak hanya mencederai marwah kaum terpelajar. Mereka juga memproduksi dan menyebarkan berita bohong secara masif demi membentuk opini publik yang sesat. Fenomena ini bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan ancaman nyata bagi persatuan dan kesatuan bangsa.
Bahaya Laten Politik Transaksional dan Hoaks
Mahasiswa selama ini dikenal sebagai agent of change, kekuatan moral, dan mercusuar kebenaran. Ketika fungsi luhur itu dibajak oleh kepentingan pragmatis, dijual seharga ongkos sewa massa dan amplop politik, maka runtuhlah kepercayaan publik terhadap generasi muda.
Ketika hoaks diproduksi secara terstruktur atas nama gerakan pemuda, dampaknya sangat destruktif.
Pertama, merusak nalar publik. Masyarakat disuguhi informasi palsu yang memecah belah, mengaburkan fakta, dan mendistorsi kebenaran di ruang publik.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










