Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran - FloresPos Net

Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran

- Jurnalis

Senin, 2 November 2026 - 09:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Yohanes Kia Nunang

SETIAP 28 Oktober, bangsa Indonesia mengenang momentum monumental Sumpah Pemuda 1928. Di tanggal itulah para pemuda dari latar suku, agama, dan daerah yang berbeda-beda memutuskan menanggalkan ego primordial demi satu ikrar: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.

Namun peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini menyisakan luka batin. Hari yang seharusnya menjadi ruang refleksi kebangsaan justru dinodai oleh pemandangan memilukan.

Baca Juga :  Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Muncul sekelompok orang yang mengatasnamakan mahasiswa, namun bergerak di atas fondasi transaksional. Mereka diduga dibayar untuk melayani kepentingan segelintir kelompok.

Ironisnya, kehadiran mereka tidak hanya mencederai marwah kaum terpelajar. Mereka juga memproduksi dan menyebarkan berita bohong secara masif demi membentuk opini publik yang sesat. Fenomena ini bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan ancaman nyata bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Bahaya Laten Politik Transaksional dan Hoaks

Baca Juga :  Bahasa, Jalan Menuju Hati dan Rekonsiliasi

Mahasiswa selama ini dikenal sebagai agent of change, kekuatan moral, dan mercusuar kebenaran. Ketika fungsi luhur itu dibajak oleh kepentingan pragmatis, dijual seharga ongkos sewa massa dan amplop politik, maka runtuhlah kepercayaan publik terhadap generasi muda.

Ketika hoaks diproduksi secara terstruktur atas nama gerakan pemuda, dampaknya sangat destruktif.

Pertama, merusak nalar publik. Masyarakat disuguhi informasi palsu yang memecah belah, mengaburkan fakta, dan mendistorsi kebenaran di ruang publik.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas
Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik
Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan
Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende
Sumpah yang Dimudahkan
Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:33 WITA

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas

Senin, 2 November 2026 - 13:09 WITA

Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik

Senin, 2 November 2026 - 09:21 WITA

Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:26 WITA

Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Memprihatinkan, Jalan Kampung Wae Sambi Manggarai Barat

Selasa, 3 Nov 2026 - 11:32 WITA