Kedua, memicu polarisasi sosial. Hoaks berbasis sentimen politik dengan mudah memantik kebencian dan kecurigaan antarkelompok, serta mengoyak tenun kebangsaan yang dirajut susah payah oleh para pendiri bangsa.
Ketiga, mematikan nurani kritis. Ketika pemuda terbiasa disetir uang untuk menyuarakan narasi palsu, maka masa depan kepemimpinan bangsa akan diisi oleh mentalitas hamba bayaran, bukan negarawan yang berintegritas.
Jika praktik ini dibiarkan menjadi lumrah, Sumpah Pemuda lambat laun hanya akan menjadi ritual seremonial tahunan tanpa jiwa.
Solusi: Menghidupkan Kembali Roh Sumpah Pemuda
Untuk membendung degradasi moral dan disinformasi ini, dibutuhkan langkah nyata yang kolaboratif dan konstruktif.
1. Penguatan Literasi Kritis dari Akar Rumput.
Gerakan literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca teks. Ia harus bertransformasi menjadi literasi kritis.
Peran taman baca, komunitas pemuda, dan ruang belajar di kampung-kampung seperti Pondok Baca Kampung Kabor harus diperkuat sebagai benteng pertahanan intelektual. Anak muda harus dilatih melakukan cross-check, verifikasi informasi, dan berpikir analitis agar tidak mudah disetir provokasi hoaks.
2. Restorasi Peran Moral Kampus dan OKP.
Kampus dan organisasi kemahasiswaan yang sah harus melakukan evaluasi total dan pembersihan internal. Pengawasan etik harus diperketat agar tidak ada pihak luar yang mendompleng nama mahasiswa untuk kepentingan politik praktis yang kotor.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










