Huntara, Bahasa Penderitaan dan Kritik Sosial Penyintas

- Jurnalis

Kamis, 11 Desember 2025 - 11:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

LETUSAN Gunung Lewotobi di Flores Timur telah menorehkan luka yang melampaui batas tubuh dan materi; ia merambah ke ranah sosial, psikologis, bahkan eksistensial.

Rumah-rumah yang runtuh, lahan yang tertutup abu, dan kehidupan yang terguncang hanyalah fragmen dari penderitaan yang lebih dalam: keterputusan manusia dari ruang yang selama ini menjadi perpanjangan dirinya.

Di tengah keterpurukan itu, lahirlah sebuah bahasa yang mengguncang hati, sebuah penamaan yang mengandung daya simbolik: “Hunian Sementara” yang disediakan pemerintah disebut warga sebagai “Hunian Tambah Sengsara.”

Bagi saya, penamaan ini merupakan ‘ekspresi filosofis dari kegelisahan kolektif’, sebuah tanda yang menyingkap jurang antara harapan akan pemulihan dan kenyataan yang justru memperpanjang derita.

Bahasa ini mengandung ironi yang tajam. Hunian, dalam makna terdalamnya, adalah ruang yang menyatukan manusia dengan kenangan, identitas, dan rasa keterhubungan dengan dunia.

Namun ketika hunian sementara dipersepsi sebagai “tambah sengsara,” maka yang terungkap adalah paradoks: tempat yang dimaksudkan untuk melindungi justru mempertegas kehilangan.

Di sini kita melihat bagaimana penderitaan hadir sebagai fakta material dan serentak pula sebagai pengalaman makna. Warga tidak sekadar kehilangan rumah, mereka kehilangan simbol rumah itu sendiri. Mereka kehilangan ruang yang memberi rasa “ada” dan “menjadi.”

“Hunian Tambah Sengsara” pada hakekatnya adalah bahasa perlawanan yang lahir dari kedalaman pengalaman manusia. Ia menolak reduksi manusia menjadi sekadar angka dalam laporan kebijakan, menolak penderitaan diukur hanya dengan jumlah rumah yang roboh atau fasilitas yang disediakan.

Baca Juga :  Ruang Publik, Edukasi dan Sensasi

Penamaan ini adalah ekspresi eksistensial yang mengingatkan kita pada gagasan Martin Heidegger tentang dwelling, bahwa rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan cara manusia “berada” di dunia, ruang yang memberi makna dan identitas.

Ketika hunian sementara gagal menghadirkan rasa tinggal yang sejati, maka yang muncul adalah keterasingan, sebuah pengalaman yang menyingkap jurang antara harapan akan pemulihan dan kenyataan yang justru memperpanjang derita.

Dalam bahasa yang pahit itu, warga mengembalikan subjektivitas mereka, menolak ditelan oleh statistik, dan menegaskan eksistensi sebagai manusia yang berhak atas kehidupan bermakna.

Kritik ini sejalan dengan pemikiran Erich Fromm yang membedakan antara mode Having dan Being: manusia tidak hanya membutuhkan benda atau fasilitas, tetapi juga pengalaman hidup yang penuh makna, relasi, dan martabat.

“Hunian Tambah Sengsara” menjadi simbol bahwa bantuan yang berhenti pada dimensi material akan melahirkan ‘alienasi baru’. Ia adalah suara yang menolak diam, suara yang menegaskan bahwa penderitaan adalah peristiwa makna, dan bahwa manusia, bahkan dalam keterpurukan, tetap berhak untuk diakui sebagai subjek yang hidup, berjuang, dan menuntut kehidupan yang lebih manusiawi.

Pada sisi terjauh, penamaan ini memperlihatkan bagaimana penderitaan dapat melahirkan solidaritas. Dengan berbagi istilah yang sama, warga membangun identitas kolektif sebagai penyintas.

Bahasa yang pahit itu menjadi perekat sosial, mengikat mereka dalam kesadaran bersama bahwa derita bukan hanya milik individu, melainkan pengalaman komunal. Dalam penderitaan, mereka menemukan kekuatan untuk bersuara, dan dalam suara itu lahirlah harapan akan perubahan.

Baca Juga :  Masa Kampanye dan Ekspektasi Publik

Pada hakekatnya, “Hunian Tambah Sengsara” adalah metafora yang menyingkap keterasingan manusia dari rumah sejatinya. Rumah di sini bukan hanya bangunan fisik yang roboh diterjang letusan, melainkan juga rumah kosmik: bumi sebagai tempat tinggal bersama yang memberi makna dan identitas.

Penamaan itu mengingatkan kita bahwa bencana tidak sekadar peristiwa alam, melainkan juga peristiwa makna, sebuah cermin yang memperlihatkan rapuhnya relasi manusia dengan dunia.

Di balik ironi bahasa yang lahir dari penderitaan, tersimpan panggilan untuk menata kembali cara hidup yang lebih peka, lebih adil, dan lebih manusiawi, agar rumah bersama tidak terus-menerus menjadi ruang sengsara.

Dari abu dan reruntuhan, bahasa warga menjadi suara yang menggugah kesadaran kolektif. “Hunian Tambah Sengsara” bukan hanya keluhan, melainkan pintu refleksi bahwa penderitaan dapat mengandung benih transformasi.

Ia mengajak kita untuk melihat bahwa luka bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab baru: menjaga bumi sebagai rumah bersama, merawat relasi dengan sesama, dan menumbuhkan solidaritas yang melampaui batas material.

Dalam kepahitan itu, manusia menemukan kesempatan untuk kembali menjadi penjaga kehidupan, bukan sekadar penghuni yang pasif, sehingga tragedi berubah menjadi momentum bagi lahirnya kesadaran ekologis dan moral yang lebih mendalam. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Rasio vs Emosi: Menyikapi Narasi “Darurat 7 Hari”
Puncak Perjalanan Akademik (sisipan pesan dalam momen Penilaian Pembelajaran Akhir Mahasiswa Stipar Ende)
Transformasi Kesalehan Pribadi Menjadi Kekuatan Sosial (Merenungi Makna Isra Mikraj Perspektif Sosiologi Agama)
Memanggul ‘Nampan Pelayanan’ (Sisip Gagas Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo)
Remaja Kita, Lumpur Derita dan Bunga Seroja
Memungut Masa Depan dari ‘Kecerdasan Hijau’ (Ketika Sampah Mampu Menyekolahkan Calon Insinyur)
Penangkapan Presiden Venezuela Hanya dalam 5 Jam dan Ancaman bagi Indonesia yang Kaya SDA
John Herdman Solusi PSSI “Redam” Baku Hantam Publik
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 21:58 WITA

Rasio vs Emosi: Menyikapi Narasi “Darurat 7 Hari”

Senin, 19 Januari 2026 - 20:02 WITA

Puncak Perjalanan Akademik (sisipan pesan dalam momen Penilaian Pembelajaran Akhir Mahasiswa Stipar Ende)

Jumat, 16 Januari 2026 - 09:57 WITA

Transformasi Kesalehan Pribadi Menjadi Kekuatan Sosial (Merenungi Makna Isra Mikraj Perspektif Sosiologi Agama)

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:53 WITA

Memanggul ‘Nampan Pelayanan’ (Sisip Gagas Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo)

Senin, 12 Januari 2026 - 11:16 WITA

Remaja Kita, Lumpur Derita dan Bunga Seroja

Berita Terbaru

Opini

Rasio vs Emosi: Menyikapi Narasi “Darurat 7 Hari”

Senin, 19 Jan 2026 - 21:58 WITA