“Yang Sakral dan Yang Sosial” - FloresPos Net - Page 2

“Yang Sakral dan Yang Sosial”

- Jurnalis

Selasa, 14 Oktober 2025 - 14:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam konteks Sole Oha, simbol-simbol lokal seperti gerak tubuh, nyanyian adat, dan kain putih menjadi ekspresi iman yang hidup. Semuanya tidak hanya berhenti sebagai ornamen ritual. Mereka berbicara tanpa kata, mengungkapkan identitas, loyalitas, serta kerinduan akan keadilan dan kedamaian.

Semana Santa dan Sole Oha berperan penting dalam mempererat ikatan sosial antarwarga. Lilin, salib, dan kain putih menjadi penanda partisipasi kolektif. Seluruh lapisan masyarakat terlibat tanpa memandang kelas sosial maupun asal kampung. Simbol-simbol tersebut menyatukan komunitas dalam narasi penderitaan dan harapan bersama.

Dalam perspektif antropologi simbolik, seperti dijelaskan oleh Mary Douglas (1970), simbol-simbol keagamaan berfungsi sebagai mekanisme pengikat sosial. Mereka menciptakan rasa memiliki dan memperkuat solidaritas melalui partisipasi bersama dalam ritus yang bermakna.

Baca Juga :  Ketimpangan yang Membunuh

Penetapan ritus sebagai warisan budaya membuka peluang pelestarian, namun sekaligus menghadirkan tantangan. Di satu sisi, terdapat ruang untuk menjaga keberlanjutan tradisi. Di sisi lain, terdapat risiko komersialisasi yang dapat mengaburkan makna spiritual. Ketika ritus berubah menjadi tontonan, sakralitasnya bisa terancam.

Makna simbol tidak terletak pada wujud fisiknya, melainkan hidup dalam relasi dan interpretasi umat. Tanggung jawab kolektif kita adalah menjaga makna batin dari Semana Santa dan Sole Oha. Ritus ini perlu dirawat sebagai ruang spiritual yang otentik, bukan sekadar atraksi budaya yang kehilangan jiwa.

Baca Juga :  Relasi Antara Kaum Pekerja dengan Majikan dalam Ensiklik Rerum Novarum

Semana Santa dan Sole Oha adalah simbol hidup. Mereka mengajarkan bahwa budaya dan iman bisa bersatu. Dalam nyala lilin dan denting nyanyian adat, kita mendengar harapan. Bahwa ritus dapat menjadi jalan pembaruan. Bahwa simbol dapat menjadi jembatan dialog antara tradisi lokal dan spiritualitas universal. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola
Buzzer, Akun Anonim dan Ancaman bagi Demokrasi Lokal
Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT
Berita ini 115 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Selasa, 21 April 2026 - 12:07 WITA

Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna

Rabu, 15 April 2026 - 21:12 WITA

Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)

Selasa, 14 April 2026 - 11:26 WITA

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian

Berita Terbaru

Maria Lidia Ene

Opini

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Rabu, 22 Apr 2026 - 20:28 WITA