Pernyataan ini patut diapresiasi, namun harus dibarengi dengan komitmen nyata untuk menjadikan etika sebagai fondasi kebijakan. Retret bukan sekadar pembinaan, tetapi harus menjadi titik balik untuk membangun birokrasi yang rendah hati, transparan, dan berpihak pada rakyat kecil.
Kita mesti bisa katakan bahwa kekuasaan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah untuk melayani. Retret bertajuk ‘Kepemimpinan Strategis’ bisa menjadi langkah positif jika dijalankan dengan semangat pelayanan, bukan sekadar seremoni.
Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan membawa manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya bagi struktur birokrasi. Karenanya, etika politik menuntut bahwa kepemimpinan bukan hanya soal strategi, tetapi juga soal hati nurani.
Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, pernah menyuarakan: “The true character of society is revealed in how it treats its children, its elderly, and its most vulnerable.”
Artinya, karakter sejati sebuah masyarakat terlihat dari bagaimana ia memperlakukan anak-anaknya, orang lanjut usia, dan mereka yang paling rentan. Bisa jadi, Mandela mau bilang begini: kepemimpinan yang etis harus berpihak pada mereka yang paling membutuhkan, bukan pada kenyamanan birokrasi.
Dalam konteks retret kepemimpinan, semangat pelayanan harus menjadi landasan utama, agar setiap kebijakan dan anggaran benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat, bukan sekadar memperkuat struktur kekuasaan.*
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende
Halaman : 1 2









