Retret Kepemimpinan, Etika Politik dan Sensitivitas Publik - FloresPos Net - Page 2

Retret Kepemimpinan, Etika Politik dan Sensitivitas Publik

- Jurnalis

Selasa, 23 September 2025 - 20:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pernyataan ini patut diapresiasi, namun harus dibarengi dengan komitmen nyata untuk menjadikan etika sebagai fondasi kebijakan. Retret bukan sekadar pembinaan, tetapi harus menjadi titik balik untuk membangun birokrasi yang rendah hati, transparan, dan berpihak pada rakyat kecil.

Kita mesti bisa katakan bahwa kekuasaan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah untuk melayani. Retret bertajuk ‘Kepemimpinan Strategis’ bisa menjadi langkah positif jika dijalankan dengan semangat pelayanan, bukan sekadar seremoni.

Baca Juga :  Makan Bergizi Gratis, Menu Sehat untuk Generasi Emas

Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan membawa manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya bagi struktur birokrasi. Karenanya, etika politik menuntut bahwa kepemimpinan bukan hanya soal strategi, tetapi juga soal hati nurani.

Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, pernah menyuarakan: “The true character of society is revealed in how it treats its children, its elderly, and its most vulnerable.”

Artinya, karakter sejati sebuah masyarakat terlihat dari bagaimana ia memperlakukan anak-anaknya, orang lanjut usia, dan mereka yang paling rentan. Bisa jadi, Mandela mau bilang begini: kepemimpinan yang etis harus berpihak pada mereka yang paling membutuhkan, bukan pada kenyamanan birokrasi.

Baca Juga :  Monetisasi Duka di Facebook Pro: Ketika Nurani Ditukar Bintang

Dalam konteks retret kepemimpinan, semangat pelayanan harus menjadi landasan utama, agar setiap kebijakan dan anggaran benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat, bukan sekadar memperkuat struktur kekuasaan.*

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh
Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi
Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)
Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Berita ini 109 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 11:57 WITA

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh

Kamis, 23 April 2026 - 19:17 WITA

Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi

Kamis, 23 April 2026 - 09:10 WITA

Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Masih Banyak Pekerja di Sikka Mendapat Upah Tak Sesuai UMR

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:55 WITA

Nusa Bunga

Polres Ende Hadirkan Pos Pol Airud di Desa Keliwumbu

Kamis, 30 Apr 2026 - 21:13 WITA