Retret Kepemimpinan, Etika Politik dan Sensitivitas Publik - FloresPos Net

Retret Kepemimpinan, Etika Politik dan Sensitivitas Publik

- Jurnalis

Selasa, 23 September 2025 - 20:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

RETRET Kepemimpinan Strategis yang digelar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk 677 pejabat struktural, dengan anggaran sebesar Rp1 miliar, menimbulkan pertanyaan mendasar dalam dari perspektif etika politik. Bagaimana pemerintah menyeimbangkan antara kebutuhan internal birokrasi dan tanggung jawab moral terhadap rakyat?

Kegiatan yang berlangsung di Kampus Universitas Pertahanan RI Ben Mboi, Atambua, ini diklaim sebagai upaya penguatan kapasitas birokrasi dan tindak lanjut evaluasi enam bulan pertama kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johanis Asadoma.

Materi yang diberikan mencakup kepemimpinan, bela negara, dan praktik pembangunan lintas kementerian. Namun, dalam perspektif etika politik, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah alokasi anggaran dan prioritas kegiatan ini mencerminkan kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat NTT?

Baca Juga :  Monetisasi Duka di Facebook Pro: Ketika Nurani Ditukar Bintang

Dari perspektif etika politik ada semacam tuntutan bahwa setiap kebijakan publik harus mempertimbangkan keadilan, transparansi, dan kepentingan rakyat.

Dalam konteks NTT yang masih bergulat dengan kemiskinan struktural, keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan penggunaan anggaran sebesar Rp1 miliar untuk retret birokrasi bisa dianggap problematis jika tidak disertai dampak langsung yang dirasakan oleh masyarakat.

Pemerintah memang menekankan bahwa tidak ada uang saku bagi peserta dan bahwa retret ini juga melibatkan kegiatan sosial serta pembelian kebutuhan dari pasar lokal.

Baca Juga :  Ketika "Kartini" Menjadi Simbol yang Berebut Makna

Namun, dari ranah etika politik, penilaian tidak hanya bersentuhan dengan niat baik, tetapi juga persepsi publik dan keadilan distribusi sumber daya. Ketika masyarakat melihat pejabat berkumpul dalam kegiatan yang tampak eksklusif, sementara kebutuhan dasar belum terpenuhi, maka kepercayaan publik bisa tergerus.

Retret semestinya menjadi ruang refleksi bukan hanya untuk menyusun rencana aksi birokrasi, tetapi juga untuk menumbuhkan keteladanan moral.

Kepemimpinan yang etis bukan hanya soal kompetensi teknis, tetapi juga keberanian untuk mendengar suara rakyat, mengakui keterbatasan, dan menghindari kemewahan yang tidak perlu.

Gubernur Melki menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan menyatukan pikiran dan perasaan demi pembangunan NTT.

Berita Terkait

Menjadi Korban Bukanlah Identitas Abadi
Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang
Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan
Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’
Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan
Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma
Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Berita ini 128 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 22:21 WITA

Menjadi Korban Bukanlah Identitas Abadi

Kamis, 6 Agustus 2026 - 13:52 WITA

Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:39 WITA

Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:29 WITA

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:25 WITA

Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan

Berita Terbaru