Bahkan, Mahfud MD pernah mengingatkan bahwa sistem Indonesia bisa mengubah merpati menjadi serigala. Sistem politik di Indonesia tidak menjamin kekokohan idealisme politik. Idealisme politik di Indonesia menjadi angan-angan yang tidak pernah terwujud dalam realitas kehidupan bernegara. Politik tidak benar-benar menjadi sarana untuk mencapai bonum commune atau kemaslahatan umum.
Hal ini diperparah dengan partisipasi yang rendah dari anak muda dalam politik, terutama dalam politik praktis partai politik. Apatisme anak muda tidak melulu bangkit dari pemahaman politik yang rendah, tetapi dari realitas partai politik yang penuh dengan intrik.
Setiap hari anak muda menonton bagaimana para politikus yang tidak sejalan dengan penguasa dijerat oleh hukum. Nadiem Makarim yang diseret kursi pengadilan, misalnya, kental dengan aroma politik intrik.
Partai politik sejatinya adalah penghubung antara masyarakat dan pemerintah. karena itu, partai politik adalah salah satu pilar demokrasi. Demokrasi yang sehat amat ditentukan dengan partai politik yang sehat pula.
Partai politik lahir dari kesamaan visi tentang kehidupan bersama. Visi partai politik selalu bertolak dari masyarakat, atau bergerak secara bottom of civil. Karena itu, partai politik seharusnya kental dengan gagasan-gagasan tentang bagaimana membangun bonum commune dalam kehidupan bernegara.
Implikasinya, ada pertengkaran gagasan-gagasan. Namun, kondisi hari-hari ini, partai politik tidak lahir dari bawah, dari masyarakat. Partai politik adalah jalinan dan jaringan oligarkis yang dibentuk di antara elit. Tidak heran, kalau partai politik sangat berjarak dengan masyarakat. Dalam kajian Arisandi, dkk, partai politik adalah sarana oligarki untuk mendapatkan kekuasaan.
Partai politik tidak dibangun di atas visi kebaikan bersama. Partai politik tidak lahir dari semangat memperjuangkan kehidupan kenegaraan. Yang terjadi adalah partai politik sebagai institusi milik keluarga, perusahan politik penguasa, instrumen para “artis” untuk menjadikan parlemen sebagai panggung pertunjukkan, dan instrumen pemerintah.
Pada titik ini, Partai politik menjadi penyakit yang menggerogoti demokrasi. Partai politik menjadi kendaraan oligarki untuk mendapatkan kekuasaan. Kajian Asrinaldi, dkk. mengungkapkan bagaimana partai politik kehilangan taji ketika oligarki mengendarai partai politik dan merangsek masuk dalam kekuasaan (2021).
Partai politik dalam genggaman oligarki semata-mata hanya menjadi kendaraan politik untuk menjangkau kekuasaan. Kita bisa menyaksikan beberapa rekrutmen politik di parlemen yang adalah oligarki sehingga cenderung menciptakan kebijakan kontra kesejahteraan rakyat. Misalnya saja isu kenaikan tunjangan rumah DPR yang memantik demonstrasi besar-besaran.
Tak pelak, kondisi ini memicu keterjarakan antara partai politik dan masyarakat. Aspirasi masyarakat tidak lagi diakomodasi oleh partai politik. Tidak heran kalau masyarakat lebih berharap pada mahasiswa daripada partai politik.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










