Reformasi Partai Politik - FloresPos Net - Page 2

Reformasi Partai Politik

- Jurnalis

Sabtu, 13 September 2025 - 16:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bahkan, Mahfud MD pernah mengingatkan bahwa sistem Indonesia bisa mengubah merpati menjadi serigala. Sistem politik di Indonesia tidak menjamin kekokohan idealisme politik. Idealisme politik di Indonesia menjadi angan-angan yang tidak pernah terwujud dalam realitas kehidupan bernegara. Politik tidak benar-benar menjadi sarana untuk mencapai bonum commune atau kemaslahatan umum.

Hal ini diperparah dengan partisipasi yang rendah dari anak muda dalam politik, terutama dalam politik praktis partai politik. Apatisme anak muda tidak melulu bangkit dari pemahaman politik yang rendah, tetapi dari realitas partai politik yang penuh dengan intrik.

Setiap hari anak muda menonton bagaimana para politikus yang tidak sejalan dengan penguasa dijerat oleh hukum. Nadiem Makarim yang diseret kursi pengadilan, misalnya, kental dengan aroma politik intrik.

Partai politik sejatinya adalah penghubung antara masyarakat dan pemerintah. karena itu, partai politik adalah salah satu pilar demokrasi. Demokrasi yang sehat amat ditentukan dengan partai politik yang sehat pula.

Baca Juga :  Narasi dan Realita, Framing Media dalam Konflik dan Harmoni Sosial

Partai politik lahir dari kesamaan visi tentang kehidupan bersama. Visi partai politik selalu bertolak dari masyarakat, atau bergerak secara bottom of civil. Karena itu, partai politik seharusnya kental dengan gagasan-gagasan tentang bagaimana membangun bonum commune dalam kehidupan bernegara.

Implikasinya, ada pertengkaran gagasan-gagasan. Namun, kondisi hari-hari ini, partai politik tidak lahir dari bawah, dari masyarakat. Partai politik adalah jalinan dan jaringan oligarkis yang dibentuk di antara elit. Tidak heran, kalau partai politik sangat berjarak dengan masyarakat. Dalam kajian Arisandi, dkk, partai politik adalah sarana oligarki untuk mendapatkan kekuasaan.

Partai politik tidak dibangun di atas visi kebaikan bersama. Partai politik tidak lahir dari semangat memperjuangkan kehidupan kenegaraan. Yang terjadi adalah partai politik sebagai institusi milik keluarga, perusahan politik penguasa, instrumen para “artis” untuk menjadikan parlemen sebagai panggung pertunjukkan, dan instrumen pemerintah.

Baca Juga :  Buzzer, Akun Anonim dan Ancaman bagi Demokrasi Lokal

Pada titik ini, Partai politik menjadi penyakit yang menggerogoti demokrasi. Partai politik menjadi kendaraan oligarki untuk mendapatkan kekuasaan. Kajian Asrinaldi, dkk. mengungkapkan bagaimana partai politik kehilangan taji ketika oligarki mengendarai partai politik dan merangsek masuk dalam kekuasaan (2021).

Partai politik dalam genggaman oligarki semata-mata hanya menjadi kendaraan politik untuk menjangkau kekuasaan. Kita bisa menyaksikan beberapa rekrutmen politik di parlemen yang adalah oligarki sehingga cenderung menciptakan kebijakan kontra kesejahteraan rakyat. Misalnya saja isu kenaikan tunjangan rumah DPR yang memantik demonstrasi besar-besaran.

Tak pelak, kondisi ini memicu keterjarakan antara partai politik dan masyarakat. Aspirasi masyarakat tidak lagi diakomodasi oleh partai politik. Tidak heran kalau masyarakat lebih berharap pada mahasiswa daripada partai politik.

Berita Terkait

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Berita ini 190 kali dibaca
Redaksi menerima kiriman artikel Opini. Artikel, profil singkat dan foto penulis dikirim melalui email: redflorespos@gmail.com atau florespos@yahoo.co.uk.

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Berita Terbaru

Advertorial

POTHP V, “Merayu” Investor Berinvestasi di Parapuar

Senin, 21 Sep 2026 - 20:11 WITA