Oleh: Karolus Banda Larantukan
PESTA Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2025 tidak saja dirayakan di Istana Negara tetapi juga merasuk hingga ke seluruh pelosok Negeri ini, tidak terkecuali salah satu kampung ‘Kecil tapi Besar’ yakni Waibalun.
Kampung Waibalun yang dalam administrasi pemerintahan sebagai salah satu Kelurahan di Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, ikut merayakan Pesta Kenegaraan ini dengan Tema: “Eret Mata di Tana Kudi. Cerdas Berbudaya untuk Flores Timur Maju dan Berdaulat”.
Pesta Rakyat di Kampung Waibalun ini sesungguhnya pertama kali diselenggarakan pada tahun 1976, yang dihiasi dengan berbagai perlombaan dan pertandingan yang bernuansa “kerakyatan kampung” serentak “nasionalis”. Artinya berbagai perlombaan dan pertandingan yang diselenggarakan tidak saja mengangkat budaya lokal tetapi juga menjiwai patriotisme nasional.
Perlombaan seperti tarian kampung Waibalun “Muro Ae” (untuk perempuan) dan “Bajo” (untuk laki-laki) menjadi perlombaan wajib untuk merawat budaya lokal. Tetapi perlombaan lain seperti “Lomba Gerak Jalan” dan “Lomba Paduan Suara Lagu Nasional” memberi makna bahwa jiwa nasionalisme harus terus digaungkan.
Namun dari pada itu, segala perlombaan dan pertandingan ini sesungguhnya bertujuan untuk memupuk rasa Kesatuan dan Persatuan serentak “Gotong Royong” untuk terlibat memeriahkan, merasakan, dan merawat Republik Indonesia.
Demikian apa yang dirayakan oleh kampung Waibalun setiap tahunnya dalam memeriahkan Kemerdekaan RI, sesungguhnya juga memupuk rasa persaudaraan antara sesama “Opu-Belake, Ina-Bine, Tiu-Tia, Kaka-Ade” di Waibalun.
Merawat dan merayakan kearifan lokal adalah menjaga dan merayakan identitas diri bahkan kampung hingga bangsa. Dan terlibat dalam kemajuan bangsa dan dunia adalah juga memajukan kampung halaman.
Oleh karenanya merawat kampung halaman dan terlibat dalam kemajuan dunia adalah ekosistem untuk membentuk jati diri yang kokoh berdaulat dan maju berdaya saing.
Dance Bola-Bola
“Dance Bola-Bola” menjadi salah satu perlombaan yang cukup bergengsi pada setiap hajatan Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Kelurahan Waibalun.
Di tahun ini, ada 6 RW sesuai adminstrasi kelurahan Waibalun ikut terlibat dalam perlombaan “Dance Bola-Bola” tersebut.
Kriteria peserta perlombaannya adalah campuran Ibu-ibu dan bapak-bapak. Jumlah peserta untuk setiap tim adalah minimal 15 orang yang terdiri dari 10 orang ibu-ibu dan 5 orang bapak-bapak.
Bertempat di panggung “JTP” kelurahan Waibalun, ke-6 RW tersebut menunjukkan kemampuannya di hadapan juri dan masyarakat.
Panggung “JTP” kelurahan Waibalun yang dibangun dengan anggaran dari Kelurahan bertujuan untuk dijadikan sebagai “Ruang Publik” bagi masyarakat setempat.
Dengan latar belakang laut dan pulau Waibalun, harapannya ruang publik ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan ekonomi melalui daya tarik wisata ke Pulau Waibalun.
Kembali tentang lomba “Dance Bola-Bola” yang diikuti oleh ke-6 RW tersebut, tim Juri akhirnya menentukan dan membacakan kejuaraan: Juara I jatuh pada RW 01.
Bedasarkan kriteria dan indikator yang ada pada dewan juri, RW 01 dinilai sangat kompak, ber-energi, penuh dengan kegembiraan dalam menari dan berlomba.
RW 01 yang berturut-turut dalam 3 tahun terakhir dengan mata lomba yang sama menempati urutan I, dinilai sangat kreatif dalam busana dan piawai dalam ragam tarian sungguh memuaskan mata penonton yang menyaksikannya.
Bahwa “Dance Bola-Bola” ini menjadi salah satu mata lomba yang menggabungkan koreografi kreatifitas kearifan lokal dalam busana dan seni dalam tarian modern.
Ada kekompakan yang harus dibangun, jiwa kepemimpinan, kreatifitas dalam seni baik busana maupun tarian dan yang terpenting adalah “bukan menang tapi juara” di hati masyarakat kampung Waibalun.
Akhirnya mengutip Dr. Paulus Budi Kleden, dalam buku “Kampung, Bangsa dan Dunia” (2008): “Di dalam dunia yang global ini, dalam pergaulan dengan dunia luas, kampung justru tidak boleh dilupakan.
Berlayar masuk ke dalam konteks global tidak berarti mengabaikan nasionalisme dan keindonesiaan, apalagi melupakan kampung.
Globalisasi mengembalikan kita ke kampung sekaligus memberi kesadaran bahwa kita mesti membangun dari kampung-kampung.
Globalisasi pun mengingatkan bahwa kita hanya menjadi warga dunia, apabila kita tidak melepaskan kampung kita. Tidak ada dunia tanpa tanah air, tidak ada kosmopolit tanpa patriot.
Maka kesungguhan untuk menggali keluhuran kampung kembali bermakna, ketelatenan mempelajari kebijaksanaan kampung bukanlah tanda kekampungan”.
Merdeka… Merdeka… Merdeka!!!
Penulis: Warga Waibalun, Kabupaten Flores Timur, NTT
Editor : Wentho Eliando











