Kekerasan Seksual: Luka dalam Relasi yang Harus Dihentikan - FloresPos Net - Page 2

Kekerasan Seksual: Luka dalam Relasi yang Harus Dihentikan

- Jurnalis

Rabu, 9 April 2025 - 19:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Marianus Jefrino

Marianus Jefrino

Survei Pew Research Center pada 2018 juga menunjukkan bahwa 93 persen responden Indonesia menilai agama itu sangat penting dalam kehidupan mereka. Sebagian besar masyarakat Indonesia juga rajin menjalankan ibadah sesuai ajaran agama masing-masing.

Namun, kenyataan tingginya tingkat kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat, seperti suami, pacar, teman, atau bahkan orang tua, menunjukkan bahwa religiositas simbolik tidak selalu berbanding lurus dengan moralitas dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

Relasi yang tidak sehat, minimnya pengendalian diri, dan kurangnya internalisasi nilai-nilai agama yang mengedepankan kasih sayang, kejujuran, dan penghormatan terhadap sesame menjadi penyebab utama terjadinya kekerasan ini.

Peneliti neuro sains dan perilaku sosial, Taufiq Pasiak, dalam analisis Muchamad Zaid Wahyudi mengenai hubungan antara ironi tingginya religiositas Indonesia dengan korupsi yang merajalela (Kompas, 08/03/2025) menyebut bahwa religiositas seseorang seharusnya berkaitan erat dengan fungsi eksekutif otak, yaitu pengambilan keputusan berbasis etik, system kendali diri, dan pemaknaan hidup.

Baca Juga :  Generasi Alpha Flores Harus Bersinar: Seruan Kebangsaan Menjelang Indonesia Emas 2045

Sayangnya, yang sering terjadi di Indonesia adalah pengambilan keputusan yang terpisah dari system kendali diri, sehingga nilai-nilai agama yang diyakini tidak selalu terwujud dalam tindakan.

Hemat penulis, hal serupa terjadi pada segala bentuk kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat ini. Nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan kasih sayang, empati, dan sejenisnya tidak lagi menjadi basis utama dalam tindakan nyata.

Apa yang Mesti Dibuat?

Pencegahan kekerasan seksual tidak bisa hanya mengandalkan hukum. Perlu ada edukasi tentang relasi yang sehat dan setara sejak usia dini. Orang tua harus menjadi contoh dalam membangun komunikasi yang terbuka dan penuh kasih. Sekolah juga berperan penting dalam memberikan pemahaman mengenai batasan fisik dan emosional dalam pergaulan.

Baca Juga :  Investasi Manusiawi melalui Gerakan Orang Tua Peduli Anak Usia Dini (sisipan untuk GOP AUD Keuskupan Agung Ende)

Lebih dari itu, masyarakat harus berani bersuara ketika melihat indikasi kekerasan terjadi di sekitar mereka. Membungkam kasus kekerasan hanya akan memperpanjang penderitaan korban dan memberikan ruang bagi pelaku untuk terus mengulangi perbuatannya.

Oleh karena itu, kita semua mesti memiliki tanggungjawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung korban, agar berani melaporkan kekerasan yang mereka alami. Media sosial sejauh ini bisa menjadi media paling efektif untuk memviralkan segala bentuk tindakan kejahatan dalam bentuk kekerasan seperti ini.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Berita ini 302 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WITA

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA