Survei Pew Research Center pada 2018 juga menunjukkan bahwa 93 persen responden Indonesia menilai agama itu sangat penting dalam kehidupan mereka. Sebagian besar masyarakat Indonesia juga rajin menjalankan ibadah sesuai ajaran agama masing-masing.
Namun, kenyataan tingginya tingkat kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat, seperti suami, pacar, teman, atau bahkan orang tua, menunjukkan bahwa religiositas simbolik tidak selalu berbanding lurus dengan moralitas dan etika dalam kehidupan sehari-hari.
Relasi yang tidak sehat, minimnya pengendalian diri, dan kurangnya internalisasi nilai-nilai agama yang mengedepankan kasih sayang, kejujuran, dan penghormatan terhadap sesame menjadi penyebab utama terjadinya kekerasan ini.
Peneliti neuro sains dan perilaku sosial, Taufiq Pasiak, dalam analisis Muchamad Zaid Wahyudi mengenai hubungan antara ironi tingginya religiositas Indonesia dengan korupsi yang merajalela (Kompas, 08/03/2025) menyebut bahwa religiositas seseorang seharusnya berkaitan erat dengan fungsi eksekutif otak, yaitu pengambilan keputusan berbasis etik, system kendali diri, dan pemaknaan hidup.
Sayangnya, yang sering terjadi di Indonesia adalah pengambilan keputusan yang terpisah dari system kendali diri, sehingga nilai-nilai agama yang diyakini tidak selalu terwujud dalam tindakan.
Hemat penulis, hal serupa terjadi pada segala bentuk kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat ini. Nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan kasih sayang, empati, dan sejenisnya tidak lagi menjadi basis utama dalam tindakan nyata.
Apa yang Mesti Dibuat?
Pencegahan kekerasan seksual tidak bisa hanya mengandalkan hukum. Perlu ada edukasi tentang relasi yang sehat dan setara sejak usia dini. Orang tua harus menjadi contoh dalam membangun komunikasi yang terbuka dan penuh kasih. Sekolah juga berperan penting dalam memberikan pemahaman mengenai batasan fisik dan emosional dalam pergaulan.
Lebih dari itu, masyarakat harus berani bersuara ketika melihat indikasi kekerasan terjadi di sekitar mereka. Membungkam kasus kekerasan hanya akan memperpanjang penderitaan korban dan memberikan ruang bagi pelaku untuk terus mengulangi perbuatannya.
Oleh karena itu, kita semua mesti memiliki tanggungjawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung korban, agar berani melaporkan kekerasan yang mereka alami. Media sosial sejauh ini bisa menjadi media paling efektif untuk memviralkan segala bentuk tindakan kejahatan dalam bentuk kekerasan seperti ini.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya









