Pembelajaran Mendalam: Fondasi Baru Pendidikan Indonesia? - FloresPos Net - Page 2

Pembelajaran Mendalam: Fondasi Baru Pendidikan Indonesia?

- Jurnalis

Selasa, 18 Maret 2025 - 21:59 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yulius Maran

Yulius Maran

Kurikulum ini bertujuan agar siswa tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga memahami konsep secara menyeluruh dan mampu menerapkannya dalam berbagai situasi nyata.

Pendekatan ini menuntut perubahan paradigma dalam proses belajar-mengajar, dari sekadar transfer ilmu menjadi pembelajaran yang lebih eksploratif dan bermakna.

Dalam konteks ini, pembelajaran mendalam menjadi strategi penting untuk membangun generasi yang berpikir kritis, inovatif, dan memiliki keterampilan problem-solving.

Menurut Freddi Malabari (2023), pembelajaran mendalam melibatkan integrasi aspek kognitif, afektif, dan sosial dalam proses belajar-mengajar.

Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik tetapi juga membentuk karakter siswa agar lebih reflektif dan mandiri.

Baca Juga :  Luka yang Terulang dan Seruan yang Belum Usai

Penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2023 menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa dengan metode pembelajaran berbasis pemecahan masalah memiliki peningkatan skor pemahaman konsep hingga 35% dibandingkan dengan metode konvensional.

Namun, implementasi pembelajaran mendalam masih menghadapi berbagai tantangan. Banyak guru masih terjebak dalam metode pengajaran konvensional yang berorientasi pada hafalan.

Survei yang dilakukan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran (Pusmenjar) Kemendikbudristek pada 2022 mengungkapkan bahwa 62% guru masih merasa kesulitan dalam menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek dan berbasis inkuiri yang menjadi ciri utama Kurikulum Merdeka. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pelatihan, kurangnya sumber daya pendukung, serta beban administratif yang masih tinggi.

Baca Juga :  Pandangan Gereja Terhadap Perbedaan Agama Dalam Terang Nostra Aetate

Meskipun demikian, banyak guru terus berupaya untuk mengadaptasi perubahan ini. Program Guru Penggerak yang telah meluluskan lebih dari 50.000 guru hingga 2024 menjadi salah satu upaya konkret untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih inovatif dan berpusat pada siswa.

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola
Buzzer, Akun Anonim dan Ancaman bagi Demokrasi Lokal
Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT
Berita ini 126 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Selasa, 21 April 2026 - 12:07 WITA

Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna

Rabu, 15 April 2026 - 21:12 WITA

Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)

Selasa, 14 April 2026 - 11:26 WITA

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian

Berita Terbaru

Maria Lidia Ene

Opini

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Rabu, 22 Apr 2026 - 20:28 WITA