Kurikulum ini bertujuan agar siswa tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga memahami konsep secara menyeluruh dan mampu menerapkannya dalam berbagai situasi nyata.
Pendekatan ini menuntut perubahan paradigma dalam proses belajar-mengajar, dari sekadar transfer ilmu menjadi pembelajaran yang lebih eksploratif dan bermakna.
Dalam konteks ini, pembelajaran mendalam menjadi strategi penting untuk membangun generasi yang berpikir kritis, inovatif, dan memiliki keterampilan problem-solving.
Menurut Freddi Malabari (2023), pembelajaran mendalam melibatkan integrasi aspek kognitif, afektif, dan sosial dalam proses belajar-mengajar.
Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik tetapi juga membentuk karakter siswa agar lebih reflektif dan mandiri.
Penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2023 menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa dengan metode pembelajaran berbasis pemecahan masalah memiliki peningkatan skor pemahaman konsep hingga 35% dibandingkan dengan metode konvensional.
Namun, implementasi pembelajaran mendalam masih menghadapi berbagai tantangan. Banyak guru masih terjebak dalam metode pengajaran konvensional yang berorientasi pada hafalan.
Survei yang dilakukan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran (Pusmenjar) Kemendikbudristek pada 2022 mengungkapkan bahwa 62% guru masih merasa kesulitan dalam menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek dan berbasis inkuiri yang menjadi ciri utama Kurikulum Merdeka. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pelatihan, kurangnya sumber daya pendukung, serta beban administratif yang masih tinggi.
Meskipun demikian, banyak guru terus berupaya untuk mengadaptasi perubahan ini. Program Guru Penggerak yang telah meluluskan lebih dari 50.000 guru hingga 2024 menjadi salah satu upaya konkret untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih inovatif dan berpusat pada siswa.
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










