Oleh: Walburgus Abulat
MENDUNG duka menyelimuti warga Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pacsa terjadi gempa tektonik berkekuatan 7,7 skala richter yang mengguncang kawasan itu pada Sabtu 15 Agustus 2026 lalu, serta ribuan gempa susulan dalam dua pekan terakhir.
Gempa ini melahirkan mendung duka bagi warga Flores karena sedikitnya ada 130-an lebih warga meninggal dunia, ribuan terluka, dan puluhan ribu rumah dan fasilitas umum rusak parah.
Data menunjukkan bahwa dari 8 kabupaten terdampak gempa ini, ada dua kabupaten yang yang paling parah yakni Kabupaten Manggarai di mana hingga Jumat 28 Agustus 2026 tercatat yang meninggal dunia sebanyak 50-an orang, dan Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 40-an orang.
Pasca bencana yang menyebabkan ratusan korban jiwa dan meluluhlantakkan pelbagai sarana dan prasana ini pelbagai elemen masyarakat Indonesia terpanggil untuk melakukan misi kemanusiaan peduli dengan para korban.
Beberapa lembaga yang terlibat dalam aksi kemanusiaan ini di antaranya Pemerintah Pusat, BNPB, Basarnas, Pemprov Jawa Barat dan Gubernur KDM, DKI Jakarta, Pemprov NTB, Pemprov Maluku Utara, Walikota Kupang, Kabupaten Sumba Barat Daya, pimpinan/organisasi TNI/Polri, PVMBG, PMI, pihak keuskupan yang bernaung di bawah Provinsi Gerejani Rego Nusa Tenggara, kongregasi seperti Ordo Karmel, SVD, Imam Diosesesan, biarawan-biarawati, para relawan dan elemen warga lainnya.
Mereka yang terpanggil dalam misi kemanusiaan ini bergerak bersama dan atau ada bersama dalam suatu wadah tertentu untuk menerjemahkan secara konkret bentuk tanggung jawab mereka dalam upaya meringankan penanganan terhadap para korban akibat bencana gempa tektonik yang berkekuatan 7,7 skala ricther itu.
Sebagaimana kita ketahui, pascaterjadinya gempa tektonik ini tampak pemerhati kemanusian dan otoritas pemerintah terlibat aktif dalam aksi mengevakuasi jenazah, mengevakuasi pengungsi; menggalang bantuan dan mendrop bantuan, dan aksi kemanusiaan lainnya.
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










