Sedangkan wujud solidaritas kemanusiaan ditunjukkan dengan sikap keikhlasan warga untuk membantu sesama yang menjadi korban bencana, baik dalam bentuk dukungan material/sumbangan suka rela, dukungan moril, maupun wujud solidaritas kemanusiaan lainnya.
Kiranya bencana gempa tektonik Fores dan dan manajemen kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat semakin menggelorakan semangat solidaritas kemanusiaa yang sudah dibangun dan mengakar dalam diri masyatakat kita selama ini untuk terus dinyalakan dan dimaksimalkan demi terwujudnya tatanan masyarakat yang lebih baik, khususnya dalam bingkai manajemen bencana yang lebih baik.
Seraya merenungi hakikat program kesiapsiagaan bencana dan makna solidaritas kemanusiaan di atas, kiranya apa yang dikatakan Perdana Menteri RI Sutan Syahrir ketika berpidato saat peringatan enam bulan usia RI pada tahun 1946 dapat mempertajam sikap kritis kita terhadap misi dan solidaritas kemanusiaan kita selama ini, khususnya dalam upaya menghadapi bencana gempa tektonik Flores saat ini.
Kebanggaan kita hanya jembatan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna, bukan untuk memuaskan diri kita sendiri. Sekali-kali bukan untuk merusakkan pergaulan kemanusiaan.
Kiranya refleksi kritis Sutan Syahrir ini memacu kita semua untuk terus memberikan pelayanan yang tulus, terus merajut kesiapsiagaan untuk memaknai dan menghadapi setiap bencana alam demi pematangan pembaktian diri kita pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Terutama dalam misi kemanusiaan untuk bersolider dengan para korban gempa tektonik Flores, yang menelan korban jiwa ratusan orang lebih, ribuan bangunan rusak parah, puluhan ribu warga yang diungsikan serta memporakporandakan pelbagai sarana dan prasarana.
Mari kita menyatukan hati dan bersolider dengan para korban dalam bingkai Kesiapsiagaan Bencana dan aksi nyata untuk bersolidaritas dengan sesama para korban gempa tektonik Flores di bawah satu tekad untuk sehati-sejiwa bersolider dengan para korban di sini dan saat ini (hic et nun). Deus benedicat, Tuhan memberkati.*
Penulis adalah Jurnalis, dan Penulis Buku Karya Kemanusiaan Tidak Boleh Mati
Editor : Wentho Eliando










