Oleh: Ansel Atasoge
CANDI Audia, remaja asal Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), berhasil meraih Golden Ticket dalam kompetisi Dangdut Academy di Jakarta.
Di balik euforia popularitas tersebut, tersimpan sebuah fenomena sosial yang menarik untuk dikaji, terutama terkait dengan mobilitas sosial, pemanfaatan modal budaya, serta signifikansi peran pemerintah daerah dalam memfasilitasi sumber daya manusia (SDM) di daerah yang jauh dari pusat.
Keberhasilan Candi menembus audisi ketat dari lebih 3.000 peserta di Makassar hingga lolos ke tahap final di Jakarta, merupakan bentuk nyata dari mobilitas sosial vertikal (vertical social mobility).
Fenomena ini membantah determinisme struktural yang sering kali mengasosiasikan kemiskinan dengan ketiadaan peluang. Candi membuktikan bahwa latar belakang sosial-ekonomi yang terbatas tidak secara mutlak membatasi ruang gerak individu untuk mencapai prestasi di panggung nasional.
Di era kontemporer, industri kreatif dan kompetisi berbasis televisi berfungsi sebagai ruang demokratisasi. Panggung Dangdut Academy bertindak sebagai katalisator yang memungkinkan modal budaya berupa bakat seni vokal dikonversi menjadi modal ekonomi dan sosial.
Bagi masyarakat di daerah terpencil yang mungkin tidak memiliki akses ke jaringan elit atau institusi seni formal, kompetisi semacam ini menjadi jalur alternatif untuk mobilitas sosial.
Bakat Candi tidak hanya menjadi komoditas hiburan, tetapi juga menjadi representasi bahwa kearifan dan potensi lokal memiliki nilai tawar yang setara di tingkat nasional.
Aspek lain yang tak kalah penting dari fenomena ini adalah respons Pemerintah Kabupaten Sikka. Pelepasan resmi Candi oleh Bupati dan Wakil Bupati Sikka sebelum berangkat ke Jakarta menunjukkan adanya kesadaran pemerintah daerah akan pentingnya dukungan terhadap warganya.
Tindakan ini merefleksikan pergeseran paradigma pembangunan daerah. Pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi mulai menunjukkan kepedulian terhadap pembangunan manusia (human development).
Dukungan moral dan simbolis dari kepala daerah berfungsi sebagai bentuk intervensi mikro yang memberikan legitimasi sosial, meningkatkan kepercayaan diri kontestan, dan membangun solidaritas kolektif masyarakat Sikka.
Namun, dukungan terhadap talenta lokal tidak boleh berhenti pada seremonial pelepasan atau ekspresi kebanggaan sesaat. Pemerintah daerah perlu mentransformasi dukungan simbolis ini menjadi kebijakan yang institusional.
Hal ini dapat diwujudkan melalui pemetaan potensi SDM secara berkala, penyediaan ruang ekspresi seni dan budaya di tingkat kabupaten, hingga alokasi anggaran khusus untuk pembinaan talenta muda dari keluarga tidak mampu.
Kisah Candi Audia adalah cermin dari potensi besar yang terpendam di wilayah periferal Indonesia. Keberhasilannya meraih Golden Ticket adalah kemenangan individu, namun juga menjadi tanggung jawab kolektif.
Tugas kita bersama, khususnya pemerintah daerah, adalah memastikan bahwa Candi bukanlah fenomena tunggal, melainkan ‘pembuka jalan’ bagi lahirnya ribuan SDM unggul lainnya dari tanah NTT yang mampu bersaing di kancah nasional maupun global.*










