25 Tahun Anugerah Imamat dan Misi - FloresPos Net

25 Tahun Anugerah Imamat dan Misi

- Jurnalis

Selasa, 23 September 2025 - 11:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Paskalis Semaun, SVD

Kesetiaan Allah atas kelemahan manusiawiku Keluarga besarku yang tercinta,

HARI ini 23 september 2025, aku berdiri di persimpangan waktu: menoleh ke belakang dan menatap ke depan, sambil merasakan hangatnya tangan Allah yang selalu menuntunku.

Dua puluh lima tahun telah berlalu bagai sungai: kadang tenang, kadang deras, kadang penuh batu yang membuatku jatuh.

Namun, tangan Allah yang setia selalu mengangkatku kembali. Kesetiaan-Nya tak pernah padam, bahkan ketika suaraku sendiri membangkang karena kelemahan manusiawiku.

Aku masih ingat masa kecilku: doa sederhana di rumah keluarga di Tureng, suara Bapa Agavitus Rahu yang membacakan Injil, dan Mama Yustina Hijal yang mengajarkan kemurahan hati melalui teladan dan kasihnya.

Dari merekalah aku belajar dua sayap yang menopang hidupku: hati yang memberi tanpa pamrih dan semangat yang tidak kenal menyerah. Tanpa dukungan mereka, tak mungkin aku berani melangkah sejauh ini.

Meskipun Bapa Agavitus dan Mamaku Yustina Hijal telah meninggal dunia, aku percaya mereka tetap hidup dan mendampingiku dalam setiap langkah.

Bagi aku, mereka adalah orang kudusku, teladan iman dan kasih yang tak lekang oleh waktu. Kehadiran rohani mereka adalah akar yang meneguhkan pohon hidupku hingga hari ini.

Keluarga bagiku bagaikan akar pohon. Dari akar itu aku menerima air kehidupan: doa, cinta, dan pengorbanan yang tak terlihat, tetapi nyata memberi kekuatan. Pohon imamatku berdiri bukan karena batangnya kokoh, melainkan karena akarnya kuat: akar doa orang tua, akar teladan keluarga, dan akar dukungan sahabat serta umat.

Namun harus kuakui, ada masa-masa gelap di mana aku tergoda untuk memilih jalan hidup lain. Ada saat imamat terasa berat, dan godaan untuk mencari arah yang lebih mudah begitu kuat.

Baca Juga :  Goodbye Roma Welcome Sikka Bangkit

Tetapi setiap kali aku hampir berbelok, Allah mengingatkanku: ada rumah yang sedang kubangun, rumah iman yang bukan hanya milikku, tetapi juga milik umat. Rumah itu tak bisa kutinggalkan begitu saja, sebab di dalamnya ada wajah-wajah yang menunggu, doa-doa yang percaya, dan kasih yang setia.

Ketika pertama kali kakiku menapakkan tanah Paraguay, aku bagai anak kecil yang harus belajar berjalan lagi. Bahasa asing, budaya baru, dan kerinduan akan kampung halaman membuatku rapuh. Namun Allah berbisik: “Belajarlah dari mereka.”

Dan benar, rakyat sederhana—para petani, saudara-saudari pribumi, suku asli, komunitas basis, dan para pejuang solidaritas—menjadi kitab hidup yang mengajarkanku arti iman, salib, persaudaraan, dan harapan.

Aku juga menyadari, panggilan ini tidak pernah kujalani sendirian. Ada keluarga, sahabat, umat, imam, para religius, dan anggota SVD yang setiap hari menjadi wajah kasih Allah bagiku.

Mereka menerima aku apa adanya, bahkan dalam keterbatasanku. Dari mereka aku belajar bahwa kesetiaan Allah sering hadir dalam doa yang dipanjatkan orang lain, dalam senyum yang menguatkan, dan dalam tangan yang menggenggam ketika aku hampir menyerah.

Dua puluh lima tahun ini juga mengajarkanku arti kebebasan sejati: bukan kebebasan untuk mengikuti kehendak diri sendiri, melainkan kebebasan untuk mengasihi tanpa syarat, untuk melayani tanpa pamrih. Doa, hidup bersama, dan pelayanan adalah sumur air yang terus mengalir, memberi kesegaran di tengah padang gersang perjalanan.

Hari ini aku kembali pada kata-kata yang menjadi moto tahbisanku, yang selalu meneguhkan langkahku: “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 14:6). Aku telah menapaki Jalan itu: sempit, berliku, kadang berbatu, tetapi selalu bercahaya.

Baca Juga :  Glokalisasi, Pasar yang Terancam dan Nafas Hidup Pedagang Kecil

Aku telah memegang Kebenaran itu: bukan teori, melainkan kebenaran yang hidup dalam wajah orang miskin, dalam umat yang tetap berharap meski terluka. Aku telah mengecap Hidup itu: hidup yang memberi kekuatan baru setiap kali aku jatuh, hidup yang menghadirkan sukacita meski di tengah air mata.

Kalau hari ini aku masih berdiri, itu bukan karena kekuatanku, melainkan karena Yesus sendirilah Jalan yang kutapaki, Kebenaran yang kuwartakan, dan Hidup yang meneguhkan langkahku.

Terima kasih, Paraguay, tanah yang mendewasakanku dalam iman.
Terima kasih, keluarga dan sahabat, yang menjadi akar dan tiang kehidupan imamatku.

Terima kasih, Allah, yang tetap setia meski aku lemah dan penuh kekurangan. Terima kasih, SVD, atas pendampingan, bimbingan, dan kasih yang tak pernah putus dalam perjalanan misi dan panggilan hidupku.

Dan kepada kalian, generasi muda, aku ingin berbicara dengan kejujuran penuh kasih: hidup ini seperti lautan luas, dan kalian adalah perahu-perahu baru yang siap berlayar.

Jangan takut menghadapi ombak, jangan gentar dengan angin yang kencang. Arahkan layar kalian pada cahaya Kristus, sebab Dialah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Kalau aku, dengan segala kelemahan, bisa sampai sejauh ini, itu semata karena kesetiaan-Nya. Dan kesetiaan itu juga tersedia bagi kalian.

Keluarga besarku, dari lubuk hatiku yang terdalam, terima kasih telah berjalan bersamaku sampai pada titik 25 tahun ini. Doakanlah aku, agar tetap setia kepada Dia yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.

Tuhan memberkati kita semua. *

Misionaris SVD, tinggal di Paraguay

Berita Terkait

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh
Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi
Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)
Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Berita ini 328 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 11:57 WITA

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh

Kamis, 23 April 2026 - 19:17 WITA

Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi

Kamis, 23 April 2026 - 09:10 WITA

Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Berita Terbaru

Camat Bajawa Stephanus FH Dore, melakukan tendangan perdana Futsal SDK Regina Pacis Bajawa Vs SDI Waturutu, di lapangan Futsal SDI Waturutu,Selasa (28/4/2026).

Nusa Bunga

Gugus I Bajawa Gelar Porseni dan Sains

Kamis, 30 Apr 2026 - 11:30 WITA