Oleh: Anselmus DW Atasoge
PADA Minggu, 21 September 2025, panggung Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende berubah menjadi altar kesadaran ekologis. Dalam rangka dies natalis lembaga bernuansa keagamaan ini, enam naskah fragmen dipentaskan dengan tema besar: keselamatan ekologis.
Di antara deretan karya yang tampil, satu fragmen mencuri perhatian saya sebagai penonton. Sebuah pertunjukan yang disutradarai oleh mahasiswa bernama Kristoforus Wode. Naskah yang ia tulis sendiri diberi judul penuh makna: Tanah yang Diberkati.
Fragmen “Tanah yang Diberkati” tidak sekadar berfungsi sebagai karya seni panggung, melainkan sebagai refleksi kritis terhadap realitas ekologis dan sosial yang tengah berlangsung di Flores.
Melalui narasi visual dan dialog dramatik, fragmen ini membuka dengan representasi desa yang hidup dalam keterpaduan ekologis (tanah yang subur, sungai yang jernih, dan hutan yang rimbun menjadi simbol keseimbangan antara manusia dan alam).
Kehidupan masyarakat digambarkan sebagai bentuk relasi spiritual dengan lingkungan, di mana alam dipandang sebagai titipan ilahi yang harus dijaga dan dihormati.
Dalam konteks Flores, relasi ini bukan hanya bersifat ekologis, tetapi juga kultural dan teologis, sebagaimana terlihat dalam praktik-praktik adat seperti ritual di ‘Dapur Alam’ yang menjadikan alam sebagai ruang sakral.
Secara antropologis, fragmen ini mengangkat dimensi ekokultural masyarakat Flores yang menjadikan alam sebagai bagian integral dari identitas kolektif. Alam tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai subjek relasional yang mengandung nilai-nilai spiritual dan sosial.
Dengan demikian, fragmen ini menyuarakan kritik terhadap paradigma pembangunan yang mengabaikan partisipasi lokal dan mereduksi alam menjadi komoditas.
Dalam kerangka ekoteologi dan ekokritik, karya ini menjadi medium yang menggugah kesadaran ekologis melalui estetika dramatik, sekaligus memperkuat narasi perlawanan terhadap proyek-proyek ekstraktif yang berpotensi merusak tatanan ekologis dan budaya masyarakat lokal.
Fragmen karya Risno Wode secara tajam mengilustrasikan dinamika konflik antara kepentingan pembangunan dan suara masyarakat lokal. Melalui narasi dramatik, ia menunjukkan bagaimana kedamaian ekologis dan sosial mulai terguncang ketika utusan perusahaan tambang datang membawa janji pembangunan yang dibalut dengan iming-iming kemakmuran.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










