Dirinya menyampaikan dia tidak boleh diusir dan punya hak sebagai guru dan datanya harus aktif untuk mengajar di semester ini tetapi para staf mengatakan mereka tidak mau melayaninya.
Lanjutnya, sempat ada oknum Pak Pardi mendatanginya dan berdiri persisi di depannya lalu mendorongnya seraya mengatakan “pulang kau, tidak ada yang mau melayani kamu”.
“Ketika saya katakan saya tidak punya kesalahan kenapa saya diusir. Lalu seorang ibu mengatakan kau punya kesalahan pun kau tidak pernah menyadari. Saya rasa ini ada sesuatu yang direncanakan,” ucapnya.
Marselinus menambahkan, dirinya lalu didorong dan membuka pintu dan keluar namun di ruang tengah pun dirinya masih diikuti Pardi dan Nela lalu didorong dan beberapa staf dalam ruangan kepala seksi seraya ditonton oleh semua pegawai.
Ia masih sempat mempertanyakan alasan dan Pardi mengatakan, “monyet kau, kau pulang, kau tidak dengar ka, kau pulang monyet”.
Perkataan itu tegas Marselinus, membuat dirinya tidak terima dan bertanya “kenapa bilang saya monyet, ini rasis pak. Pardi pun mengatakan “kau tidak terima, tandai muka saya, saya orang Lokaria”.
“Saya merasa dipermalukan di depan umum dan penglihatan saya waktu itu langsung kosong. Saya sempat tanya, bapak beetanggung.jawab, Pardi katakan saya siap bertanggungjawab,” ungkapnya.
Marselinus mengaku merasa martabat dan harga dirinya sebagai guru agama yang selalu mengajarkan Citra Allah, Gambar Allah, tapi kemudian perlakuan kepadanya sangat merendahkan.
Bahkan menyamainya dengan monyet sehingga membuat dirinya merasa tidak ada harganya, martabatnya diinjak-injak.
Ia mengaku beruntung waktu itu ada teman-teman pers sehingga ia dibantu sebab kalau tidak ada rekan pers tubuhnya pasti pingsan karena kondisi tubuhnya sangat drop.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










