Sekitar 20 menit kepala seksi bicara, dia pun meminta izin sambil berkata dirinya datang dari sekolah untuk menyerahkan berkas dan harus kembali karena kebetulan Sekertaris Camat Kewapante sudah meneleponnya terus.
“Saya ditelepon Sekcam Kewapante untuk pertemuan terkait HUT RI karena saya ketua seksi acara HUT RI di Kecamatan Kewapante. Makanya saya minta izin untuk segera urus berkas saya,” ungkapnya.
Marselinus sesalkan, permintaan izinnya malah ditanggapi kepala seksi dengan berkata,”model kau ini, siapa yang menjadi pembina guru agama, saya ini penguasa untuk guru agama, pembina dan pengawasnya tunduk pada saya”.
Karena kondisi bahasa itu dan tidak nyaman membuat Marselinus menyalahkan perekaman suara di ponselnya.
Kepala seksi pun menyampaikan soal berkasnya dan menyatakan bisa saja berkas dia tidak valid sehingga dirinya merasa posisi agak dimarahi namun dia kemudian mengangguk saja tapi kepala seksi minta dirinya pergi.
“Kepala seksi katakan, model kau ini, kau pulang. Ambil berkas kamu dan kami tidak mau melayani. Bahasa kepala seksi langsung disambut oleh beberapa staf untuk meminta saya pulang,” terangnya.
Marselinus berdiri dan menuju meja operator Pak Yolan karena tujuannya datang ke Kantor Kemenag Sikka untuk menyerahkan berkas tapi dia langsung ditanya,”kamu mau bua tapa?” dan dia katakan “saya mau menyerahkan berkas saya”,
Ia menjelaskan, mereka mengatakan siapa yang mau melayani kamu disini, tdiak ada yang mau melayani kamu sehingga ia bertanya alasan dirinya tidak dilayani apa.
“Mereka katakan tidak ada alasan, kamu tidak dengar itu kepala seksi omong.Ada juga suara dari Ibu Nela yang mengatakan bapak kepala seksi punya kausa penuh dalam ruangan ini,” jelasnya.
Marselinus mengatakan, tapi tidak ada alasan, dasar dirinya ditolak dan tidak dilayani tetapi dikatakan “intinya kami tidak mau melayani kamu, satu pun dari kami tidak mau melayani, kau cari tempat lain saja”.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










