LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) butuh seribu ton lebih benih padi berlabel 2027. Ini terkait pola Tanam Benih Langsung (Tabela). Butuh 70-80 kilogram (kg) per hektare (ha). Luas lahan baku Mabar 16 ribu ha. Tanam jajar legowo.
Tabela adalah sistim pertanian moderen dalam program PM-AAS (Pertanian Moderen Advanced Agriculture System) dari Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia (RI). Tabela PM-AAS mulai beruji coba di Mabar.
Tarsi Gonsa, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Mabar mengungkapkan itu menanggapi media ini di Labuan Bajo belum lama berselang.
Ia ditemani Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan, Blasius Apen, dan Kabid Hortikultura dan Perkebunan, Nasarus Natar.
Diberitakan media ini sebelumnya, kurangi ketergantungan pariwisata, pembangunan Manggarai Barat 2027 berbasis pertanian, peternakan, dan perikanan.
Menurut Gonsa, selama ini kebutuhan akan benih padi sawah di Mabar sebanyak 25 kg/ha. Musim tanam dua kali, yaitu Okmar (Oktober-Maret) dan Asep (April-September). Okmar musim hujan dan Asep musim kering/kemarau.
Namun sekarang Mabar mulai bergeser ke pola Tabela PM-AAS. Program baru berbau pertanian moderen itu memakan benih 70-80 kg/ha.
Konon hasilnya berlimpah, sekitar 10 ton ke atas per ha, ketimbang pola lama 25 kg/ha di bawah 10 ton/ha. Tabela juga konon banyak positifnya, antara lain memangkas biaya produksi.
Sama seperti cara lama, Tabela juga tentu harus dilengkapi dengan pupuk, obat-obatan berkecukupan, alat dan mesin (Alsintan) yang lengkap pula.
Irigasi/pengairan juga harus berkecukupan. Sistim pengerjaan betul-betul sesuai petunjuk dan kalender pertanian, termasuk pola tanam jajar legowo, pola pemupukan dan lainnya.
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










