Nilai-nilai inilah yang kemudian menginspirasi Jules Rimet. Ia memandang sepak bola tidak sebatas sebagai permainan atau hiburan, melainkan sarana untuk mempertemukan manusia, menghapus sekat-sekat sosial, dan menumbuhkan semangat persatuan.
Keyakinan tersebut sudah ia wujudkan sejak mendirikan Red Star Football Club di Prancis. Klub itu terbuka bagi siapa saja, tanpa membedakan status sosial maupun kondisi ekonomi. Baginya, lapangan hijau adalah tempat setiap orang dapat berdiri sejajar sebagai sesama manusia.
Pengalaman Rimet sebagai tentara pada Perang Dunia I semakin menguatkan cita-citanya. Setelah menyaksikan begitu banyak penderitaan akibat perang, ia percaya bahwa bangsa-bangsa membutuhkan ruang untuk saling bertemu dalam semangat damai.
Dari keyakinan itulah lahir gagasan menyelenggarakan turnamen sepak bola internasional yang mempertemukan negara-negara di dunia. Bukan untuk berperang, tetapi untuk bertanding dengan sportif.
Kini, hampir satu abad kemudian, Piala Dunia telah menjadi peristiwa olahraga terbesar di dunia. Miliaran orang menyaksikannya, berbagai budaya saling bertemu, dan jutaan penggemar merayakan kebersamaan melalui sepak bola.
Di balik setiap pertandingan, kita diingatkan bahwa olahraga memiliki kekuatan untuk menyatukan, membangun persahabatan, dan menumbuhkan harapan akan dunia yang lebih damai.
Namun, ketika kita menyandingkan visi suci Rimet dan ajaran Rerum Novarum dengan fenomena ‘baku olok’ fans di Indonesia hari ini, kita dihadapkan pada sebuah ironi yang menampar.
Jika Paus Leo XIII dan Jules Rimet memandang sepak bola sebagai alat untuk menegakkan martabat manusia dan menghapus sekat, maka baku olok yang berujung pada perundungan (bullying), ujaran kebencian, atau perpecahan antarkelompok adalah sebuah pengkhianatan terhadap ‘roh sepak bola’ itu sendiri.
Lapangan hijau yang seharusnya menjadi tempat di mana ‘setiap orang dapat berdiri sejajar’ (seperti semangat Red Star FC), kini sering kali ‘terbawa’ ke dalam ruang digital yang justru dipenuhi oleh sekat-sekat ego dan kesombongan.
Akan tetapi, kita juga tidak boleh pesimis. Semangat rivalitas dan ‘baku olok’ yang sehat sebenarnya adalah bukti bahwa sepak bola mampu menyentuh emosi terdalam manusia. Misi Rimet setelah Perang Dunia I adalah menciptakan ruang aman untuk menyalurkan konflik tanpa harus saling menghancurkan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










